Nop 17th, 2007
KULIAH TERBANG#11


“This is knives out berdengung di telinga, sembari menikmati lalu lalang aktifitas,..selamat pagi jakarta..”
Sebut dia seorang lelaki berkendara gerobak beroda 3, bersama sekumpulan barang bawaanya, dia melihat sudut pandang kota dari sana, dan dia pun tertidur di dalamnya. Melintas di Saharjo dan bertemu dengannya, hingga sampai ke perbincangan dan sindiran-sindiran kecil, ramah kaum jelata.
“saya jarang bermimpi mas, kalo tidur di rumah bersama anak istri baru bisa,…”
Berhenti mendadak, tuk sejenak memberi kafein dan nikotin agar tubuh terus terjaga, agak memaksa,.. ya mau bagaimana lagi. Bangku panjang menjadi sandaran pilihannya, tanpa selimut, hanya obat oles anti nyamuk, itupun sachet. Pola hidup tiap orang memang berbeda, apalagi jam tidurnya, “jangan samakan kami dengan pegawai kantoran, kami belum terbiasa..”
Ditemukannya artikel ini di internet, selamat membaca,...”Walaupun selama ini masalah tidur tidak dianggap sebagai masalah yang besar, kajian baru-baru ini menunjukkan bahawa masalah tidur boleh membawa kepada masalah jantung. Dalam satu kajian dari tempo 1996 sehingga 1998, dan diterbitkan dalam journal “Occupational and Environmental Medicine” keluaran Juli,…” maka dari itu sayangi jantung anda dengan tidur teratur, tidak mengkonsumsi nikotin dan kafein, dan alhasil saya akan selalu ceria, namun hampa. Pilihan yang berat.
Mencoba mengkondisikan sebuah suasana yang nyaman, namun terkadang suasana yang nyaman pun akan menjadi sangat relatif, terhadap situasinya sendiri, ataupun yang membutuhkannya itu sendiri. Mengintip sebuah keadaan intim para kuli panggul yang tinggal di kolong by pass daerah sunter, dan hanya terus berharap, semoga mereka dapat tertidur nyenyak malam ini.
Setelah sekian bulan meninggalkan kamar di rumah, akhirnya merasa ingin berkunjung kembali kesana,..miss my room. Kamar memang menjadi sangat privasi bagi setiap orang, dalam ruang itulah kita berhak berkreasi di dalamnya, sebuah simulasi ataupun replika ruang sebelum kita mempunyai sebuah hunian tetap, kita sebut saja rumah. Rumahku berbeda dengan Rumahmu.
Selipkan folder lagu Rudit di MP4 ku, terdengar treasure-nya the cure, dan strange glue-nya catatonia, maka ku kan terlelap. Namun si bapak hanya mendengarkan gemuruh suara TAXI dan motor berpenumpang entah siapa, serta angin yang terus menyelimuti disekitaran tubuhnya, bukan selimut, sekali lagi bukan selimut tebal nan wangi loundry pinggiran jalan itu.
Mencoba mengingat beberapa tahun lalu, dikala tengah malam di waktu tidur,.adakalanya selalu terbangun hanya untuk pipis ataupun sekedar menenggak air putih di lemari es, dan kembali melanjutkan tidur kembali di waktu yang tersisa. Saat ini hal itu tak pernah terulang kembali, tak pernah ada yang meneliti hal tersebut, pikiran tersebut hanya muncul dikarenakan sebuah pengalaman waktu kecil disaat semua masih terpola dengan rapih. Kapan saat kau harus sekolah, kau harus bermain bola, sarapan pagi, sampai mengerjakan PR-mu dari sekolah.
“gw punya kosan,..tapi nggak tau kenapa gw selalu suka tidur di sini, enak bareng temen-temen, bisa nonton tv, paling cuma numpukin barang aja kalo di kosan”.(narasumber pemuda pecinta komik lulusan Universitas Indonesia) Betapa sebuah situasi dalam ruang begitu terasa sangat diperhitungkan untuk mencapai tingkat kenyamanan bagi tiap orang. Disaat ada sebagaian orang yang memilih untuk dapat beristirahat dengan tenang di sebuah kamar yang berteman dengan cd player serta bantal guling, dan ada juga yang rela beralaskan buntelan kain sampai lengan sebagai bantalnya dan rela berdesak-desakan dikarenakan kapasitas ruang tersebut tak mencukupi untuk semua orang, namun disitulah terlihat eratnya letak kebersamaan yang saya lihat. Manusia pasti akan berubah. Semua akan berubah saat semua menyadari bahwa kondisi seperti ini sudah tak tepat lagi.
Menyimak sebuah pergerakan roda ekonomi di pelataran pasar tradisional daerah pasar minggu, begitu ramainya, tepat disaat semua orang tertidur lelap, ini pukul 3 dini hari, namun mereka sudah mulai merapikan bayam hasil panen kebunnya. Dan disaat semua pegawai dan anak sekolah kembali memulai aktifitasnya, mereka pun menyiasati waktu sedikit untuk beristirahat dan kembali menyiangi hasil panennya. “kalau tidur terus,..kita nggak bisa makan mas,..”
Segala sesuatu yang berlebih atau kekurangan sekalipun memang tidak pernah dapat diketahui mana yang benar dan apa yang salah.
Kembali menyadarkan betapa sebuah aktifitas bila dirasa sudah memusingkan, marilah kembali berfikir bahwa bukan hanya kamu senidri yang hidup, otak, jantung, aliran darah, semu membantu. Tapi disaat kelelelahan tiba, tolong coba sayangi otakmu, jantungmu, dan aliran darahmu, dengan beristirahat sejenak. Selamat tidur.
m.sigit budi.s
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar event pameran yang melibatkan beberapa komunitas seni dan seniman untuk bergabung berkolaborasi mengangkat satu tema besar yang di beri nama “TANDA KOTA”. Serrum menjadi salah satu komunitas yang ikut serta dalam event ini. Sajian di ruang pamer Galeri Cipta II & III Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 14 s.d 30 Nopember 2007 menjadi akhir eksekusi project ini.
Berdasarkan tema tersebut, maka digagaslah sebuah ide yang dipahami memenuhi wacana tanda kota tersebut, yaitu mengenai konsep ruang yang menjadi bagian atau elemen yang memberikan identitas sebuah kota besar. Katakanlah halte bus, rumah sakit, gedung perkantoran, kamar kos-kosan, gerobak sampah, rambu lalulintas, warung roko, dan lain sebagainya merupakan sebuah identitas yang memberikan penandaan pada kota-kota besar, terutama Jakarta.
Memahami konsep ruang tersebut, maka digulirkan sebuah tema “SATUSELIMUT”.
Satuselimut berbicara mengenai penggunaan ruang atau tempat oleh masyarakat untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar merek, yaitu tidur. Berbagai atribut digunakan untuk membuat mereka terlelap dengan nyaman. Ponsel, asbak, selimut, tutup mata, dan lain sebagainya merupakan atribut yang biasa di kenakan saat ingin tidur selain tentu saja tempat tidur yang nyaman.
”Sudah berapa lama tinggal disini pak?”
”10 th, sejak tahun 1997. Dulu saya tinggal di rumah orang tua di tanah abang. Sekarang umur saya 56 tahun, untuk penghasilan sehari-hari saya jual beli barang bekas. Diwaktu senggang saya suka membuat lukisan”
”wah, buatnya dari apa pak?”
”dari bahan yang saya temukan, kadang kanvas, karpet, apa saja”.
”Biasanya bapak tidur dengan siapa? dan berapa jam tidurnya?”
”sendiri, hanya dengan gerobak saya ini. Biasanya saya tidur dari jam 12 malam sampai jam 5 pagi”
”kok bapak memilih tinggal disini?”
”Saya merasa lebih bebas dan nyaman.”
”Nyaman gimana pak?”
”Ya senang bisa jalan-jalan tiap hari tanpa beli bensin, meski cape kalo pake gerobak. Kan mesti di dorong-dorong”
” Berarti bapak nggak slalu disini dong? paling sering dimana menetapnya pak?”
”disini, saharjo. Tapi kalo lagi ada hajatan di sebelah sanaan, cari tempat yg kosong.”
”Pernah ngalamin hal buruk ketika tidur disini pak?”
”belum pernah, paling-paling gak punya duit…perut laper. Ya tapi gak gitu lama”