Des 16th, 2007
Ayo Dong Nyablon…
Menjelang akhir tahun ini, SERRUM Jakarta Art Community memfasilitasi kegiatan workshop sablon untuk pelajar sekolah menengah pertama 44 Jakarta Timur. SERRUM telah beberapa kali menyelenggarakan workshop sablon, namun, membantu sekolah dalam pelaksanaan program life skill ini merupakan kegiatan perdana. Berikut catatan kegiatannya.
Hari I
Workshop sablon—sekolah menengah pertama negeri 44, Pisangan Jakarta Timur. Ada tigapuluh orang siswa yang mengikuti kegiatan ini, diambil dari kelas satu dan kelas dua.
Kelas sablon dimulai sejak jam delapan pagi. Arif Ato , Arimago, Ombow dan MG Pringgotono mengawali hari dengan menyiapkan kelas belajar. Mereka adalah fasilitator yang akan mengawal workshop sablon. Malam sebelumnya, cek akhir telah dilakukan. Perlengkapan, alur belajar, fasilitator hingga kesiapan individu.
Workshop dilaksanakan selama dua hari, limabelas dan enambelas Desember. Workshop sablon ini merupakan program life skill yang dicanangkan pemerintah dalam rangka memberikan keahlian bagi peserta didik sekolah menengah—pertama dan lanjutan. Dana kegiatan ini telah dialokasikan pemerintah melalui program life skill—tentunya jumlahnya berbeda di tiap daerah. Kegiatan ini sendiri menghabiskan dana sekitar Rp. 1.000.000- untuk produksi. Anggaran ini terpakai untuk membeli sepuluh screen, pasta, dan bahan lain yang digunakan untuk sablon. Cukup murah, mengingat kesemua alat ini nantinya menjadi aset sekolah.
Di hari pertama, ketigapuluh peserta diajak untuk berkenalan dan langsung bermain dengan sablon. Pengenalan dasar sablon, media, bahan penunjang desain, hingga teknis kerja sablon. Keseluruhan peserta terbagi dalam delapan kelompok. Ini dilakukan untuk menyiasati minimnya perlengkapan dan tempat. Tidak ada kata mundur untuk belajar. Pihak sekolah berharap ada ketrampilan yang didapatkan oleh siswanya—selain itu kegiatan sablon merupakan perpaduan kerja dua bagian otak. Safni, guru yang mengajar di sekolah ini menjelaskan bahwa minat seni budaya memang harus ditanamkan pada siswa.
Peserta workshop begitu antusias. Terlihat betapa mereka menyukai tiap kegiatan yang diberikan. Padahal, peserta yang mengikuti kegiatan ini mengaku ditunjuk langsung oleh sekolah. Pihak sekolah mengeluhkan minimnya partisipasi siswa jika mereka membuka pendaftaran terbuka. Ditunjuk-pun masih ada yang tidak berkehendak datang.
Masing-masing anak telah siap membawa kaos untuk media sablon. Desain dibuat, mencuci screen, membuat afdruk, dan…sablon dimulai. Meski terbagi dalam kelompok, mereka membuat sablon secara individu. Gambar tidak rata, tinta melebar ke luar desain gambar adalah masalah utama yang mereka hadapi. Bagaimanapun, belajar diawali dengan ketidaksempurnaan.
Sore datang, jam belajar diperpanjang. Mata-mata sayu, wajah-wajah kelelahan yang terlihat pada saat kelas masih berjalan, hilang. Mereka memegang tinggi hasil karya masing-masing dengan senyum lebar, sap membawa pulang hasil karyanya. Workshop akan dilanjutkan esok hari.
Hari II
Di hari kedua, peserta workshop berkurang, namun jumlahnya tidak signifikan. Kali ini, bapak guru Art-man didatangkan khusus dari Tangerang untuk membantu kegiatan. Materi dasar telah dipelajari di hari sebelumnya. Kali ini peserta difasilitasi sekolah untuk membuat “uniform” klub sekolah. Basket, dance, sepak bola dan musik. Mereka akan menyablon kostum sekolah sebanyak empat kodi. Fiiuuh. Selain menyablon seragam sekolah, ternyata peserta juga membawa desain dan media baru untuk sablon.
Siswa yang membuat desain seragam telah ditentukan sebelumnya, kreatifitas milik siapa saja. Gambar desain yang masuk untuk seragam datang lebih banyak, sehingga perlu ditentukan ulang. Desain-sesain yang muncu dikolaborasi, digabung, ada yang gambarnya terpilih, ada tulisan “SMP 44”-nya yang bagus dan pilih. Mereka akhirnya memutuskan karya yang akan dijadikan desain sablon. Desain dan kerja sablon untuk seragam sekolah dibuat sendiri oleh siswa. Tentunya hal ini membuat kebanggaan tersendiri bagi siswa. Dari empat kodi, mereka menyelesaikan tiga lusin kaos sablon pada sesi kedua workshop. Workshop pun berakhir. Semoga kreatifitas terus berlanjut.
Program life skill telah jauh hari dicanangkan, ini masih berhubungan dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi acuan pendidikan Indonesia. Selain sablon, life skill juga dibagi dalam beberapa kegiatan, antara lain jurnalistik, menjahit dan otomotif.
Untuk yang tertarik belajar sablon, serius santai dijamin bisa—kalo memang niat belajar. Tidak usah ragu, hubungi saja serrum.org. Pasti kita bantu.[sahat]
.
lifeskill…
hebat sekali…
setelah SMP 44, di sekolah manakah akan dilangsungkan kegiatan serupa?
saya sangat mendukung kegiatan itu. apakah ada rencana untuk mengadakan di seluruh sekolah?