Follow Serrum_ on Twitter

News for Juni 2010

Jenaka Berbalut Sarkas

Artikel di Media Cetak Sinar Harapan, 12 Juni 2010

ditulis oleh Donny Anggoro

Perkenalkan, Eko. Lengkapnya Eko S. Bimantara. Komikus kelahiran Jakarta,30 Mei 1988 ini memang sedang bercanda. Tapi kalau kita simak candaannya tak sekedar bercanda. Ada sindiran dan tentu saja nuansa sarkasme yang dibalut dengan cergas. Komikus yang saat ini masih menempuh studinya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Fakultas Seni Rupa memang beda.

Ia memang berlaku konyol dalam kedua bukunya yang belum lama terbit, Guru Berdiri Murid Berlari (terbit Desember 2009) dan Kompilasi Komik Rada Lucu (KRL, terbit Mei 2010). Walau konyol tapi banyak pesan tersimpan dalam komik–komiknya itu. Dan kesemuanya berhasil tersaji dengan lugas tanpa pretensi mengarifi apalagi menggurui. Ada pencapaian tentang upaya bersikap kritis terhadap masalah di sekitar dalam komik-komiknya. Pendek kata, ada kejenakaan berbalut sarkas dalam komiknya. Gambarnya sederhana dan masih berkubang dalam kekonyolan, resep yang rata-rata dicapai komikus muda kita belakangan ini. Meski kekonyolan bukan hal yang baru dalam komik kita tapi tetap ada sesuatu yang ditawarkan komikus yang sehari-harinya bergiat di komunitas seni rupa bernama Serrum ini.

Tak ada tokoh sentral dalam komik-komik Eko. Cerita-ceritanya pendek-pendek saja, hanya terbagi dalam empat panel ringkas, sesudah itu, selesai. Dan ia memang tak sedang menciptakan sosok ala Mickey Mouse baru seperti komik-komik kebanyakan. Semuanya arbitrer-mana suka-dan memang Eko sedari awal memang tidak bermaksud menciptakan sosok bahkan tokoh hero sekalipun.

Oleh penerbitnya, Gradien Mediatam dari kota gudeg Yogyakarta kedua bukunya langsung optimis dicetak masing-masing sebanyak 5000 eksemplar. Dibanderol masing-masing seharga Rp. 15.000 perak saja per komik, ihwal “penemuan” penerbit terhadap karya komiknya pun terbilang unik. Konon mereka kepincut tatkala menyaksikan komik-komik Eko ini ditampilkan di situs jejaring sosial Facebook walau semula kedua komik ini beredar fotokopian secara indie dari tangan ke tangan. Dalam situs ini terjaring penggemar sebanyak 3448 fans sehingga membuat pihak penerbit percaya komik Eko bakal disentuh peminat tatkala dicetak dan ditebarluaskan ke dalam bentuk yang lebih “terhormat” bernama buku.

“Semuanya dikerjakan dari jarak jauh lewat e-mail dan pos surat. Bahkan saya sendiri sampai sekarang belum pernah bertemu muka dengan pihak penerbit,” tutur Eko, pemuda ramah berkulit putih berdarah Jawa yang lahir dari latar belakang urban Jakarta.

Pada buku pertama yang diberi tajuk “Glitik Sosial Dunia Pendidikan Sekitar Kita” Eko memerlihatkan gambar seorang guru yang marah-marah tatkala menyaksikan dirinya disebut galak oleh seorang muridnya di kelas. Setelah anak yang mengaku menuliskannya disuruh maju ke depan untuk menghapusnya, bukan tulisan “galak’ yang dihapusnya, melainkan ditambahkan kata “gila” sehingga jadi “Pak Agus Gila”. Sebuah guyon segar yang sontak memancing tawa kita sebagai pembaca. Lucu, ringkas dan sederhana, itulah resep yang dikeluarkan Eko tatkala meramu komik-komiknya yang mengaku ide-idenya banyak didapat dari hasil diskusi dengan teman-teman komunitasnya di Serrum.

Pada panel lainnya lagi Eko memerlihatkan pertengkaran seornag bapak dengan anaknya. Sang bapak ingin anaknya langsung kerja sedangkan sang anak ingin luliah dulu. Sang bapak marah karena sekolah hanya buang-buang duit saja. Tapi tatkala ketika mereka menyaksikan iklan televisi acara “The Masker” (plesetan dari “The Master”) dimana di situ biasanya orang menjadi “kelinci percobaan” sang paranormal atau magician seperti Deddy Corbuzier untuk dihipnotis atau berbuat apa saja menurut kehendak magician, sang bapak mengusulkan anaknya ikut acara itu saja supaya “langsung dapat duit”. Hal itu langsung disetujui anaknya. Aha, disini tanpa berpanjang lebar Eko tengah mengangkat budaya masyarakat kita yang mudah “termamah” iklan televisi. Ikut program begituan nyatanya lebih penting daripada sekolah!

Sedangkan pada buku kedua (kompilasi KRL) Eko memerlihatkan sosok Superman yang mampu menghentikan kereta KRL yang relnya terputus. Walau mampu menolong, ia tak bisa menolong orang-orang yang duduk di atas KRL karena mereka tetap terjatuh walau sudah ditahan sekuat tenaga oleh sang superhero!

Meskipun masih berkubang dalam arena “kekonyolan”, resep jitu yang konon masih dipakai duet Benny & Mice, komikus kondang dari komik strip harian Kompas Minggu, “Benny & Mice”, jika diperhatikan kedua komik Eko bukan komik anak-anak. Memang lucu dan sedikit berbau “kekerasan” yang mengingatkan kita pada komik Crayon Sinchan. Tapi di situ ada kritik sosial yang mendalam dilontarkan komikusnya. Apalagi jika kita tahu maksud komik KRL (Komik Rada Lucu) di salah satu bagiannya ada maksud edukasi dari komikus kepada penumpang kereta listrik KRL untuk tidak naik ke atap kereta. Oleh keponakan sastrawan Yanusa Nugroho ini, KRL dimaksudkan sebagai upaya memberikan kritik atas permasahan yang terjadi di sekitarnya, khususnya di Jabodetabek. Makanya, jika kita menyaksikan komik-komik Eko terkesan ‘Jakarta banget’. Tak pelak lagi dunia komik kita telah mencatat salah satu perkembangan yang patut dicapai yang semoga dapat terus menggairahkan perkembangan komik kita dari amsa ke masa. Komik-komik Eko berhasil “menggugat tapi tetap menggigit”.

Selamat buat Eko. Ditunggu karya selanjutnya yang lebih punya visi dan makna. Sekali lagi, selamat!

Rawamangun, Mei 2010

Edisi spesial KartiniKomik strip dalam KRL#edisi spesial Kartini

Posted: Juni 27th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: 1 Comment.

Fixer ‘Ini Baru yang Namanya Pameran Kontemporer!’

Serrum

Serrum

Serrum

Jum’at 18 Juni 2010 pukul  16.00 lalu, sebuah pameran dibuka di Galeri North Art Space, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Sebuah pameran yang diadakan oleh pihak manajemen Galeri NAS, dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Effendy.

Pameran ini layaknya seperti sebuah gathering, ajang berkumpulnya komunitas dan ruang alternatif yang bergerak dibidang Seni Rupa se-Indonesia, berhasil diikuti oleh 21 peserta:
Akademi Samali (Jakarta), Asbestos Art Space (Bandung), Atap Alis (Jakarta), BYAR Creative Industry (Semarang), Common Room Networks Foundation (Bandung), Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), House of Natural Fiber (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Jatiwangi), Kampung Segart (Jakarta), Malang Meeting Point (Malang), Maros Visual Culture Initiative (Jakarta), Performance Club (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), Ruang Akal (Makassar), Ruang Mes56 (Yogyakarta), Sarueh (Padang Panjang), Serrum (Jakarta), Tembok Bomber (Jakarta), Urbanspace (Surabaya), & Video Lab (Bandung).

Pameran ini menampilkan karya-karya yang mempresentasikan komunitas, baik berupa produksi karya artistik secara bersama maupun individu sebagai sebuah pernyataan artistik, maupun kesadaran organisasi komunitas terhadap publik dengan mengelola, baik secara mandiri maupun kolaborasi, kegiatan untuk publik luas seperti pameran, lokakarya, festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film/ video, website, pengarsipan dan penelitian.

Pameran ini juga menyajikan presentasi dan diskusi dari setiap komunitas yang menjadi peserta pameran, pada 19-20 Juni 2010, menyoal seputar aktivitas dan eksistensi komunitas itu sendiri. Diskusi dan presentasi ini terbagi menjadi beberapa wacana:

1. ‘Keberlanjutan organisasi, program dan strategi lokal’

2. ‘Proyek seni rupa dan kolaborasi’

3. ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ dan

4. ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’

Pada diskusi ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’ tanggal 20 Juni 2010, ‘Serrum’ diwakilkan oleh M.Sigit Budi.S sebagai salah satu presentator sekaligus ketua komunitas, mengatakan bahwa Serrum sendiri tidak menyadari bahwa komunitasnya sudah dapat diterima sebagai komunitas yang bergerak di ruang kota/ruang publik, selama ini Serrum sendiri adalah sebuah wadah yang  membangun fokus terhadap dunia pendidikan melalui medium Seni Rupa.

Walaupun Ardi Yunanto sebagai moderator pada saat itu menyimpulkan bahwa pembahasan tentang wacana ‘Seni (dan) Ruang Publik’ masih perlu dimatangkan kembali, namun Serrum sendiri memang mengakui bahwa aktifitasnya dalam merespon ruang kota/ruang publik sebagai media berkarya adalah hal yang dilakukan secara konsisten, berkesinambungan dan terprogram, karena kegiatan itu merupakan sebuah bentuk realisasi konsep awal terbentuknya Serrum sebagai badan organisasi yang  mengetengahkan komunikasi kepada publik.

Presentasi dan diskusi membuat ajang kumpul-kumpul komunitas ini menjadi sangat menarik. Banyak pembahasan yang perlu dilanjutkan dan wacana-wacana baru yang perlu dibedah untuk pencapaian pemetaan dalam perkembangan dunia Seni Rupa di Indonesia. Semoga ini adalah sebuah awal yang baik.

Gustaf  ‘Common Room’, pada saat diskusi tentang ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ mengatakan sebuah candaan yang boleh dibilang kontroversial;

‘Bahwa pameran inilah yang sebenarnya dibilang pameran kontemporer, bukan seperti yang sedang dikompetisikan di Indonesian Art Award’.

Selamat untuk Fixer.

Selamat untuk kita semua.

Bahasan yang sama bisa dilihat juga di:

Fixer@Indonesiaseni.com

Posted: Juni 24th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: No Comments.