Follow Serrum_ on Twitter

News for Juli 2010

Kuliah Terbang #20

Serrum

Posted: Juli 27th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: No Comments.

Marhaban Ya Tahun Ajaran Baru

KRL 'Guru Berdiri Murid Berlari'Salah satu komik strip dalam buku: Guru Berdiri Murid Berlari karya Eko S Bimantara

Tulisan oleh: Mochammad Hasrul Indrabakti

“Libur telah tiba-libur telah tiba… hore-hore-hore…
Simpanlah tas dan bukumu lupankan keluh kesah mu…
Hati ku gembira….”

Ya kalau saja saya nyanyikan itu sekarang mungkin para siswa-siswi akan geram mendengarnya, karena baru saja hari ini 12 Juli 2010, kebanyakan dari mereka kembali mengingat tas dan bukunya serta mengingat keluh kesahnya.

Ahh sial… aku telat..
Ketika berangkat menjalin rutinitas temporer, saya singgah untuk minum secangkir kopi di sebuah warung, ketika sedang menyeruput gelas kopi ada seorang bapak dengan motor tulennya juga mampir dan si tukang warung menanyakan dengan lantang “ dari mana pak?” dan si bapak menjawab “ ini abis nganterin si fulan (bukan nama sebenarnya) mulai sekolah lagi…”

Bertepatan dengan hari masuk sekolah mungkin nasional yang disingkat “HARSUKLAHMUNAS” bertepatan pula dengan habisnya piala dunia 2010, saya sempat berpikir ketika akan berangkat, saya akan berjuang melawan kemacetan yang super, ternyata tidak. Ada apa gerangan? Mungkin saja mereka masih tertidur lelap karena final piala sepak bola dunia tersebut. Hmm siapa tau? Saya pun tak tau..

Teringat waktu masih duduk disekolah dasar, ketika masuk hari pertama di tahun ajaran baru, biasanya wali kelas yang baru menyuruh kami untuk menceritakan pengalaman liburan masing-masing, hal tersebut mungkin salah satu alibi guru untuk malas menggajar. Dan biasanya kebanyakan murid di sekolah saya bercerita tentang penggalaman ke rumah nenek di Desa, dengan sawah yang menghampar dan sebagainya. Karena saya pun bercerita juga ke rumah nenek sayangnya kenapa rumah nenek saya tidak ada sawahnya, seperti rumah nenek-nenek dari teman-teman saya, ah saya mau jadi cucu dari nenek bersawah.

Ketika sekolah menengah pertama, ketika memasuki tahun ajaran baru, saya sangat semangat ke sekolah, karena selain bertemu dengan teman baru (dedek-dedek kelas 1) di hari pertama rumput hijaulah yang kami pilih, tidak lain dan tidak bukan bermain bola, senangnya bermain bola bersama teman-teman lagi, layaknya sekolah sepak bola Arsenal kami sudah siap dengan berbagai seragam sepak bola, tidak peduli seragam putih yang baru langsung cokelat karena diletakan sembarang, yang penting bermain bola. Ya karena kami mungkin kurang bisa diatur ataupun guru-guru kami yang telalu baik, karena dilarang bermain bola dan disuruhnya kami masuk kelas untuk belajar formalitas, seorang siswa mengusulkan untuk pulang, dan hasilnya apa, tentu saja pulang… karena sistem di sekolah menengah pertama saya benar-benar unik. Setelah pulang tentu saja anak-anak lucu seusia kami kala itu tidaklah langsung pulang, tentu saja bermain ke rumah seorang teman yang mempunyai game konsol terbaru yang didapatkannya karena nilainya baik.

Sekolah menengah atas, hmm… ketika mendengar hari pertama tahun ajaran baru, sungguhlah miris, karena kembali ke sistem yang paling saya tidak sukai. Tahun ajaran baru hari pertama biasanya saya tidak masuk sekolah, saya pergi ke warung langganan kami saat itu dan kami sebut rutinitas ini sebagai “cabut”. Karena di jenjang ini malas untuk sekolah sungguhlah tinggi, selain pelajaran yang makin meninggi, ada juga masalah-masalah pribadi seperti cinta-cinta SMA. Aaahh…. Mungkin bagi teman-teman yang sedang dimabuk hal tersebut senang-senang saja untuk masuk sekolah karena bisa bertemu dengan kecengan, pacar, dedek-dedek baru dan yang lain-lain. Tapi bagi sebagian umat seperti saya yang hanya menjadi gulma itu hal yang tidak mungkin. Ada sih sedikit niatan untuk masuk dan melihat “adik-adik” baru tapi yaah apa daya mereka sudah di isolasi oleh organisasi sosis dan apa daya lagi bagi umat seperti saya.

Dengan ini saya mengucapkan selamat bagi teman-teman yang memasuki tahun ajaran baru di sekolah. Semoga tahun ajaran baru merupakan tahun baru bagi pelajar dan belajar, buat semuanya menjadi baru dan tidak lagi memasuki era belajar yang tidak baru. Karena saya pun masih harus belajar banyak tentang hal yang baru termasuk belajar memasuki. Sukseskan dan senang!

Posted: Juli 16th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: 1 Comment.

LET’S PIMP YOUR DRAWING BOOK dan LET’S PIMP 2 GUNUNG: Menggugah Kebermainan lewat Facebook

Karya Ryan The Popo dalam LETS PIMP YOUR DRAWING BOOK


Karya MG Pringgontono dalam LETS PIMP YOUR DUA GUNUNG

Situs jejaring sosial Facebook kini bukan sekedar wahana berbagi suka dan beragam minat saja. Oleh seniman MG Pringgotono atau akrab disapa Emji dari komunitas Serrum ia menyodorkan tantangan berkarya kepada siapa saja yang berminat memodifikasi gambar melalui Facebook.

Pada projek pertamanya ia menyodorkan tantangan memodifikasi kaver buku gambar ikon warna kuning yang sedang tersenyum produksi Hidayat Jaya yang mirip dengan ikon Yahoo.

Peminatnya cukup banyak dan Emji selaku penggagas tak membatasi siapapun boleh tampil dengan karyanya. Dari 393 member yang terdaftar projek ini berhasil melibatkan 113 karya yang dihasilkan dari 100 kreator berbagai latar belakang mulai dari desainer grafis, seniman, mahasiswa, siswa SMA, dll dari berbagai kota. Cukup menarik jika melihat apa yang sudah dihasilkan dari projek ini.
Berbagai macam modifikasi yang dihasilkan (rata-rata melalui karya digital) sangat beragam dan membuat kita bakal tersenyum-senyum menyaksikan
ikon gambar bulatan kuning yang sedang tersenyum ini “diperkosa” atas nama kreativitas. Keseluruhan karya ini dipamerkan juga dalam bentuk
video dan cetak di acara Fixer North Art Space, Ancol, Jakarta dari tanggal 18 Juni-28 Juni 2010.

Hasilnya lucu-lucu. Misalnya karya Rheean’s VictoriaBlue (kebetulan para pesertanya rata-rata menggunakan nama alias di Facebook) yang memodifi
kasi ikon kaver buku gambar ini menjadi penuh darah dan gigi-gigi yang runcing sehingga ikon tersebut tak lagi tersenyum melainkan menyeringai.
Atau karya Randy Nurzain yang menambahkan rambut ikal dan bibir berlipstik. Lucunya lagi ada yang membubuhkan foto Luna Maya dan Ariel, 2 artis yang sedang hangat dibicarakan di media massa belakangan ini di atas ikon buku gambar tersebut. Selain itu ada pula yang membubuhkan logo grup musik Slank, menambahkan helm di atas kepala ikon tersebut atau mengubahnya menjadi wajah yang mirip tokoh kartun Spongebob.

Tentu saja di sini tak dicari semacam kompetisi siapa gambar terbaik ihwal “memperkosa” ikon buku gambar tersebut. Melainkan hanya untuk
mengaduk-aduk ikon buku gambar yang legendaris itu menjadi karya baru yang lucu, unik serta menggemaskan. Walau demikian terasa ada
permainan seru di atas bidang-bidang ikon yang sudah sangat dikenal itu. Konon desain buku gambar produk Hidayat Jaya ini juga dipakai oleh produk buku gambar lain, yaitu produk AA. Bedanya kalau produk AA digambar di atas bidang berwarna merah. Menyimak ikon yang
mirip ikon Yahoo ini kita berpkir jangan-jangan desainernya sama. Sayangnya sampai sekarang desainernya anonim alias tak diketahui. Padahal meski sederhana gambarnya jangan-jangan mengilhami ikon Yahoo yang kita kenal sekarang ini.

Dan permainan di atas ikon buku gambar tersebut nampaknya berhasil dengan terjaringnya 133 gambar sehingga kita bisa menyaksikan segala rupa permainan bentuk yang ditawarkan di atas potongan bidang warna kuning yang rata-rata diulang secara repetitif (tidak terlalu melenceng dari ikon aslinya).
Karena ini adalah tawaran “suka-suka” maka sebagai “seniman modern” (ya, begitulah kita dengan hormat menyebut para peserta tawaran ini) kita bisa menyimak permainan visual di atas bidang legendaris itu. Sederhana memang. Tapi dari kesederhanaan itu muncul kebermainan yang menggugah memori kita terhadap buku gambar yang sangat akrab di mata di saat kanak-kanak kita.

Selanjutnya Emji menawarkan tantangan bebas memodifikasi gambar 2 gunung yang juga (lagi-lagi) tak bisa lepas dari memori kanak-kanak kita sewaktu ada pelajaran menggambar. Gambar 2 gunung, sawah kotak-kotak dan rumah, matahari di tengah gunung seolah-olah menjadi “diktum” gambar kanak-kanak kita sehingga hasilnya seragam. Tiada yang bisa disalahkan juga kenapa rata-rata hasilnya bisa sangat kompak dan sama semua pada waktu itu, karena tak semua guru yang mengajarkan gambar pada waktu itu memang bukan guru gambar sebenarnya (atau malah nggak bisa gambar sebenarnya) sehingga ia menyodorkan “pattern” yang “harus” ditiru. Lucu memang.

Dari tawaran memodifikasi 2 gunung ini terjaring 170 anggota dengan 34 karya. Tentu saja daftar ini akan semakin bertambah.

Dan kita sebagai penikmat bisa terhibur menyimak macam-macam modifikasi yang ditawarkan. Seperti misalnya karya Sindi Ibnusina yang mengubah kedua gunung “yang sangat legendaris itu” menjadi gambar 3 piramid dengan gambar mata di atasnya. Atau karya Chaka Endiers yang menjadikan 2 gunung itu menjadi kaver buku pelajaran Matematika terbitan Balai Pustaka dengan mengubah kedua gunung itu menjadi dua penggaris segitiga sedangkan jalan di tengah diubah menjadi penggaris. Ada lagi karya Kelli Mandalina yang mengubah 2 gunung itu menjadi tumpukan es krim warna-warni yang menggoda dan menggugah selera.

Karya Kelli ini nampak mencoba “mengelola” warna-warni yang riang, begitu juga karya Jeany Pebriwayani yang mengubah 2 gunung tadi menjadi gambar 2 orang yang mengenakan topi kertas berbentuk segitiga dari koran dengan diberi warna-warni di kanan-kiri yang meriah berkesan kanak-kanak sehingga “pattern” 2 gunung tersebut tampak hilang sama sekali.

Ada pula karya Dio Lombardo Jordison yang mengubah 2 gunung legendaris tersebut menjadi gunung es pada bidang sebelah kanan, ditambahkan gambar-gambar dinosaurus di sisi jalan raya. Hasilnya jadi terkesan surealis yang berfungsi sebagai penyegar ide. Ada juga karya Robo Wobo yang mengubah gambar sawah didepannya menjadi gambar seorang pengendara sepeda motor.

Seperti halnya tawaran pada “drawing book” di sini yang ditampilkan adalah kebermainan mengolah pola atawa “pattern” yang legendaris itu menjadi sebentuk karya baru yang kuat unsur kebermainannya.

Selamat bermain!

Rawamangun, Juni 2010

Ditulis oleh: Donny Anggoro

Posted: Juli 5th, 2010
Categories: project
Tags:
Comments: No Comments.