Musiklogue
Review kuliah terbang kali ini yang membahas tentang perkembangan musik dunia dan indonesia yang di bawakan oleh sdr. Ucrit, seniman dari Jatiwangi Art Factory. Pembahasan di titik beratkan pada komprehensi musik nasional dan tradisional indonesia.
Seperti yang telah di ketahui bahwa, musik adalah sebuah bentuk ekspresi yang dapat di nikmati secara global, memiliki potensi untuk saling mengintervensi dan mempengaruhi warna masing-masing daerahnya
Proses saling mempengaruhi itu berlangsung secara natural, tidak ada paksaan, biasanya disebabkan karena rasa ketertarikan terhadap sesuatu yang baru, irama yang baru, harmoni yang baru.
Bukan merupakan kesalahan tentunya jika kemudan manusia mulai merasa rindu terhadap kenangan masa lalu.
Romantisme itu pun berhasil di munculkan oleh penyaji dengan memutar beberapa video clip lama, dan semakin mundur kebelakang hingga pada pembahasan tangga nada yang di gunakan pada instrumen musik tradisional.
Mungkin meniru patern yang di buat Eropa mengenai DO-RE-MI-FA-SOL-LA-SI-DO, budaya Sunda di Indonesia juga memiliki patern yang berbeda, yaitu DA-MI-NA-TI-LA-DA, sedangkan India memiliki SA-RI-GA-MA-PA-DA-MI-SA. India dan Eropa memiliki kesamaan dalam hal jumlah putaran tangga nada, yaitu delapan tangga nada dasar, yang unik adalah budaya sunda yang hanya memiliki enam tangga nada.
Dalam sesi diskusi yang di gelar, pertanyaan mengapa hanya berjumlah enam menjadi pertanyaan yang tersulit di jawab oleh penyaji, kemudian pembahasan meningkat pada alasan konvensi tangga nada tersebut, khusus pada tangga nada doremifasollasido.
dijelaskan bahwa pentingnya sebuah kesepakatan untuk membuat notasi simbolik pada dunia musik, salah satunya adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, catatan sejarah, referensi yang bisa di pahami dan di pelajari, dan tidak bisa di pungkiri bahwa perkembangan musik selanjutnya sangat di pengaruhi oleh itu semua.
Ada y ang sangat menarik yang di unkapkan oleh penyaji, bahwa perkembangan musik modern di indonesia tertinggal lebih dari 30 tahun, kenyataan tersebut diperkuat dengan di sajikannya beberapa video klip yang memberikan perbandingan nuansa, irama, tempo, ritme, dan warna musik modern eropa dengan Iindonesia. siapa sangka bahwa genre musik modern Indonesia telah di mainkan pemusik era 60-an di Eropa dan Amerika, beberapa klip yang dimainkan terdengar sangat familiar dengan irama musik pop, ataupun rock yang di bawakan grup band yang saat ini tengah men empati posisi atas tangga lagu indonesia.
Tetapi ha tersebut bukanlah hal yang merisaukan, karena sesungguhnya musik memiliki lebih dalam makna dari pada sekedar membuntuti euporia tren yang berlangsung.
menurut penyaji, langkah yang dilakukan oleh para pendahulu yang membuat kesepakatan (konvensi) dan merumuskan rumusan tingkat tangga nada dalam bentuk notasi simbolik yang dapat di baca, di pahami, di operasionalkan kedalam berbagai kebutuhan berkaitan dengan pengkajian musik, adalah sebuah langkah dan penemuan luar biasa, musik beralih menjadi disiplin yang sangat kompleks sebagai sebuahilmu sekaligus tetap memiliki warna yang memenuhi kebutuhan ekspresi, impresi , dan gejolak, baik yang bersifat sangat personal, maupun yang memiliki pengaruh sosial.
Esensi sebuah musik selaiknya dipahami sebagai sebuah karya seni dengan potensi yang menyentuh wilayah multidimensional dan multifungsi. Sebagai catatan bahwa saat ini musik sudah mencapai perkembangan yang melingkupi univesalitas dimana musik di wilayah tertentu tidak harus selalu membawa ciri wilayahnya, tetapi satu daerah atau negara dapat menciptakan warna musik yang biasa di mainkan daerah atau negara lain yang sangat berjauhan letaknya.