SERRUM Jakarta Art Community
where the place to share
Hybrid art exhibition
Categories: info, project

Photobucket
Bungkus; memiliki pengertian yang beragam, bisa sebagai lapisan yang menyatukan berbagai objek didalamnya, sehingga menghadirkan impresi yang berbeda, image yang berbeda.

Bungkus juga identik pada konsep saji (pada akanan cepat saji), segala yang berbau ‘instan’. Saat ini kecenderungan untuk melakukan pembungkusan, pengemasan, pemampatan, penumpang-tindihan menjadi bagian dari aktifitas manusia, melakukan kegiatan dalam satu waktu, ruang dan pikiran.

Kondisi ini seperti menjadi semacam paket yang membawa pada percepatan informasi dalam satu waktu, sehingga bentuk bahasa dan informasi seperti mengkristal menjadi sebuah tanda-tanda yang lebih simbolik.

Ruang massa kini telah membentuk sebuah budaya (kultur) baru yang di sebut “world of sign“ dan berlaku secara global.

Sebuah percepatan dipengaruhi oleh kemajuan sistem dan teknologi informasi, sehingga instrumen yang memenuhi ruang dan waktu tersebut semakin tumbuh dan berkembang, pun dalam sekat-sekat imajiner, sehingga ruang yang tersedia seolah menyempit karena penuh sesak, tidak nyaman.

Kondisi tersebut memicu seseorang untuk mencari sedikit kesenanga, walaupun kesenangan dan kebahagian pseudo, yang mengalami de-formasi dalam proses pencapaiannya, de-formasi pada orientasinya, sehingga hasilnya adalah bentukan yang juga telah terdeformasi sedemikian rupa, dan hanya berlaku sesaat saja. Euphoria menjadi lebih dari cukup buat mereka.

Beberapa seniman Jakarta merespon kondisi ini dengan sangat cerdas, berbagai cara mereka memberikan ungkapan, konsepsi, dan interpretasi dari sebuah “Bungkus”.

Andy Tidjels (Sakit Kuning Collectivo) berkolaborasi dengan RM Herwibowo (Propagraphic) menciptakan “JoyBox”, sebuah box berupa instalasi interaktif terdiri dari satu paket ”hiburan”, mengumpulkan lalu menyatukan objek–objek dalam satu kemasan. Mereka Mencoba membuat ambience sebuah kelab malam didalam sebuah box. Membungkus suasana hingar bingar dalam satu container, lalu meletakkannya dalam ruang pamer. Menciptakan ruang didalam ruang.

Instalasi kolaborasi antara Ale dan Muhamad gatot (Serrum) yang bertajuk Miror Masking akan mengangkat masalah keberadaan bungkus secara identitas/personal dalam masyarakat kota yang multikultur. Gaya hidup, kemajuan teknologi dan percepatan arus informasi telah memudahkan masyarakat untuk mengkonsumsi segala produk yang telah dikemas secara massal. Sebuah produk dapat menciptakan image tertentu terhadap pemakainya, membuat seseorang lebih percaya diri, bahkan menaikkan status sosial.

Istalasi interaktif hasil kolaborasi antara Lily adi permana + Eko bintang yang bertajuk Inner sound; mengambil sampel bunyi sebagai sesuatu yang berpengaruh dalam pembentukan karakter kepribadian seseorang. Menyerap bunyi dari ruang audience, membungkusnya dan mengolahnya, lalu mengeluarkanya kembali ke audience.

Kolaborasi keenam seniman tersebut merupakan karya eksperimental, mencari hibridasi dari unsur yang berbeda.

Mari bungkus..

Tags:

Leave a Reply