Suku Mollo, masyarakat dan Lingkungan
sebuah review
Oleh M Hasrul Indrabakti
Beberapa masalah pertambangan menjadi sebuah polemik di Indonesia, begitu juga yang terjadi di Mollo, Nusa Tenggara Timur sebuah desa yang permai dan penuh dengan sumber daya alam yang melimpah. Hal tersebut menjadi peluang bagi beberapa pengusaha tambang yang ingin merauk rupiah sebanyak-banyaknya, gunung yang menjadi tempat bertumpu masyarakat suku Mollo, dieksploitasi oleh pengusaha. Dan masyarakat pun melawan dengan kekuatan mereka. Salah satunya adalah Mama Aleta seorang wanita setengah baya asal suku molo yang sangat vokal dan menghimpun kekuatan untuk melawan “penjajah” di daerahnya.
Hal tersebut dituangkan dalam sebuah pameran tentang suku Mollo yang di selelnggarakan di Goethe Institut. Komik strip yang diilustrasikan oleh Eko S Bimantara tentang apa yang terjadi di suku Mollo, fenomena sosial dan politik di daerah tersebut digambarkan dengan cara sederhana, lucu namun satir, salah satunya seperti cerita tentang belum adanya listrik di daerah tersebut digambarkan dengan komik dalam 3 panel, dalam komik tersebut digambarkan sebuah rumah suku Mollo yang terbuat dari bilik sedang dipasangi antena televisi oleh salah satu pemuda daerah tersebut, lalu masyarakat sekitar yang sedang lewat menanyakan kepada pemuda tersebut apa yang sedang dilakukan, lalu pemuda tersebut menjawab sedang memasang antena untuk mendapatkan berita, lalu masyarakat yang lewat tersebut mengingatkan “Emang bisa? Kan desa ini belum ada listrik” lalu si pemuda bilang “oiya”, dengan visual yang lucu si pemuda langsung hilang dari atas rumahnya dan tidak jadi memasang antena. Hal-hal lucu tersebut disajikan oleh Eko dengan karakter yang khas. Keindahan dan keharmonisan warga suku Mollo pun disajikan dengan indah dalam sebuah ilustrasi yang lucu namun sungguh memberi makna yang dalam.
Dalam pameran ini tidak hanya suku Mollo saja yang disajikan, dalam pameran ini juga disajikan karya instalasi yang berbeda dengan komik, seperti yang disajikan dalam karya Sigit Wijaya yang menampilkan rak yang biasa terdapat dalam pasar swalayan, dalam rak tersebut dipajang beberapa produk yang biasanya dikonsumsi masyarakat sehari-hari yang beberapa bahan dasarnya dibuat dari hasil eksploitasi tambang. Sebuah layar yang menanyakan kepada pengunjung yang hadir di pajang dalam pameran ini, pengunjung yang hadir dapat memberikan video testimonial tentang pertanyaan yang ada pada karya tersebut, seperti “Apa yang telah diperbuat anda untuk mengurangi penggunaan emas” dan lain sebagainya. Karya ini menjadi salah satu perhatian pengunjung, karya mereka bisa berinteraksi dengan karya tersebut.
Pameran ini merupakan salah satu acara rangkaian South to south film festival 2012, yang diadakan oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat yang berkonsentrasi pada masalah lingkungan dan sosial, pameran ini merupakan hasil kerjasama Serrum dengan STOS. Review acara South To South Film Festival bisa dilihat disini: http://www.stosfest.org/
Semoga pesan dari pameran ini dapat memberikan dampak positif dan menambah kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.





