Follow Serrum_ on Twitter

Author News Archive

Kuliah Terbang #20

Serrum

Posted: Juli 27th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: No Comments.

Marhaban Ya Tahun Ajaran Baru

KRL 'Guru Berdiri Murid Berlari'Salah satu komik strip dalam buku: Guru Berdiri Murid Berlari karya Eko S Bimantara

Tulisan oleh: Mochammad Hasrul Indrabakti

“Libur telah tiba-libur telah tiba… hore-hore-hore…
Simpanlah tas dan bukumu lupankan keluh kesah mu…
Hati ku gembira….”

Ya kalau saja saya nyanyikan itu sekarang mungkin para siswa-siswi akan geram mendengarnya, karena baru saja hari ini 12 Juli 2010, kebanyakan dari mereka kembali mengingat tas dan bukunya serta mengingat keluh kesahnya.

Ahh sial… aku telat..
Ketika berangkat menjalin rutinitas temporer, saya singgah untuk minum secangkir kopi di sebuah warung, ketika sedang menyeruput gelas kopi ada seorang bapak dengan motor tulennya juga mampir dan si tukang warung menanyakan dengan lantang “ dari mana pak?” dan si bapak menjawab “ ini abis nganterin si fulan (bukan nama sebenarnya) mulai sekolah lagi…”

Bertepatan dengan hari masuk sekolah mungkin nasional yang disingkat “HARSUKLAHMUNAS” bertepatan pula dengan habisnya piala dunia 2010, saya sempat berpikir ketika akan berangkat, saya akan berjuang melawan kemacetan yang super, ternyata tidak. Ada apa gerangan? Mungkin saja mereka masih tertidur lelap karena final piala sepak bola dunia tersebut. Hmm siapa tau? Saya pun tak tau..

Teringat waktu masih duduk disekolah dasar, ketika masuk hari pertama di tahun ajaran baru, biasanya wali kelas yang baru menyuruh kami untuk menceritakan pengalaman liburan masing-masing, hal tersebut mungkin salah satu alibi guru untuk malas menggajar. Dan biasanya kebanyakan murid di sekolah saya bercerita tentang penggalaman ke rumah nenek di Desa, dengan sawah yang menghampar dan sebagainya. Karena saya pun bercerita juga ke rumah nenek sayangnya kenapa rumah nenek saya tidak ada sawahnya, seperti rumah nenek-nenek dari teman-teman saya, ah saya mau jadi cucu dari nenek bersawah.

Ketika sekolah menengah pertama, ketika memasuki tahun ajaran baru, saya sangat semangat ke sekolah, karena selain bertemu dengan teman baru (dedek-dedek kelas 1) di hari pertama rumput hijaulah yang kami pilih, tidak lain dan tidak bukan bermain bola, senangnya bermain bola bersama teman-teman lagi, layaknya sekolah sepak bola Arsenal kami sudah siap dengan berbagai seragam sepak bola, tidak peduli seragam putih yang baru langsung cokelat karena diletakan sembarang, yang penting bermain bola. Ya karena kami mungkin kurang bisa diatur ataupun guru-guru kami yang telalu baik, karena dilarang bermain bola dan disuruhnya kami masuk kelas untuk belajar formalitas, seorang siswa mengusulkan untuk pulang, dan hasilnya apa, tentu saja pulang… karena sistem di sekolah menengah pertama saya benar-benar unik. Setelah pulang tentu saja anak-anak lucu seusia kami kala itu tidaklah langsung pulang, tentu saja bermain ke rumah seorang teman yang mempunyai game konsol terbaru yang didapatkannya karena nilainya baik.

Sekolah menengah atas, hmm… ketika mendengar hari pertama tahun ajaran baru, sungguhlah miris, karena kembali ke sistem yang paling saya tidak sukai. Tahun ajaran baru hari pertama biasanya saya tidak masuk sekolah, saya pergi ke warung langganan kami saat itu dan kami sebut rutinitas ini sebagai “cabut”. Karena di jenjang ini malas untuk sekolah sungguhlah tinggi, selain pelajaran yang makin meninggi, ada juga masalah-masalah pribadi seperti cinta-cinta SMA. Aaahh…. Mungkin bagi teman-teman yang sedang dimabuk hal tersebut senang-senang saja untuk masuk sekolah karena bisa bertemu dengan kecengan, pacar, dedek-dedek baru dan yang lain-lain. Tapi bagi sebagian umat seperti saya yang hanya menjadi gulma itu hal yang tidak mungkin. Ada sih sedikit niatan untuk masuk dan melihat “adik-adik” baru tapi yaah apa daya mereka sudah di isolasi oleh organisasi sosis dan apa daya lagi bagi umat seperti saya.

Dengan ini saya mengucapkan selamat bagi teman-teman yang memasuki tahun ajaran baru di sekolah. Semoga tahun ajaran baru merupakan tahun baru bagi pelajar dan belajar, buat semuanya menjadi baru dan tidak lagi memasuki era belajar yang tidak baru. Karena saya pun masih harus belajar banyak tentang hal yang baru termasuk belajar memasuki. Sukseskan dan senang!

Posted: Juli 16th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: 1 Comment.

LET’S PIMP YOUR DRAWING BOOK dan LET’S PIMP 2 GUNUNG: Menggugah Kebermainan lewat Facebook

Karya Ryan The Popo dalam LETS PIMP YOUR DRAWING BOOK


Karya MG Pringgontono dalam LETS PIMP YOUR DUA GUNUNG

Situs jejaring sosial Facebook kini bukan sekedar wahana berbagi suka dan beragam minat saja. Oleh seniman MG Pringgotono atau akrab disapa Emji dari komunitas Serrum ia menyodorkan tantangan berkarya kepada siapa saja yang berminat memodifikasi gambar melalui Facebook.

Pada projek pertamanya ia menyodorkan tantangan memodifikasi kaver buku gambar ikon warna kuning yang sedang tersenyum produksi Hidayat Jaya yang mirip dengan ikon Yahoo.

Peminatnya cukup banyak dan Emji selaku penggagas tak membatasi siapapun boleh tampil dengan karyanya. Dari 393 member yang terdaftar projek ini berhasil melibatkan 113 karya yang dihasilkan dari 100 kreator berbagai latar belakang mulai dari desainer grafis, seniman, mahasiswa, siswa SMA, dll dari berbagai kota. Cukup menarik jika melihat apa yang sudah dihasilkan dari projek ini.
Berbagai macam modifikasi yang dihasilkan (rata-rata melalui karya digital) sangat beragam dan membuat kita bakal tersenyum-senyum menyaksikan
ikon gambar bulatan kuning yang sedang tersenyum ini “diperkosa” atas nama kreativitas. Keseluruhan karya ini dipamerkan juga dalam bentuk
video dan cetak di acara Fixer North Art Space, Ancol, Jakarta dari tanggal 18 Juni-28 Juni 2010.

Hasilnya lucu-lucu. Misalnya karya Rheean’s VictoriaBlue (kebetulan para pesertanya rata-rata menggunakan nama alias di Facebook) yang memodifi
kasi ikon kaver buku gambar ini menjadi penuh darah dan gigi-gigi yang runcing sehingga ikon tersebut tak lagi tersenyum melainkan menyeringai.
Atau karya Randy Nurzain yang menambahkan rambut ikal dan bibir berlipstik. Lucunya lagi ada yang membubuhkan foto Luna Maya dan Ariel, 2 artis yang sedang hangat dibicarakan di media massa belakangan ini di atas ikon buku gambar tersebut. Selain itu ada pula yang membubuhkan logo grup musik Slank, menambahkan helm di atas kepala ikon tersebut atau mengubahnya menjadi wajah yang mirip tokoh kartun Spongebob.

Tentu saja di sini tak dicari semacam kompetisi siapa gambar terbaik ihwal “memperkosa” ikon buku gambar tersebut. Melainkan hanya untuk
mengaduk-aduk ikon buku gambar yang legendaris itu menjadi karya baru yang lucu, unik serta menggemaskan. Walau demikian terasa ada
permainan seru di atas bidang-bidang ikon yang sudah sangat dikenal itu. Konon desain buku gambar produk Hidayat Jaya ini juga dipakai oleh produk buku gambar lain, yaitu produk AA. Bedanya kalau produk AA digambar di atas bidang berwarna merah. Menyimak ikon yang
mirip ikon Yahoo ini kita berpkir jangan-jangan desainernya sama. Sayangnya sampai sekarang desainernya anonim alias tak diketahui. Padahal meski sederhana gambarnya jangan-jangan mengilhami ikon Yahoo yang kita kenal sekarang ini.

Dan permainan di atas ikon buku gambar tersebut nampaknya berhasil dengan terjaringnya 133 gambar sehingga kita bisa menyaksikan segala rupa permainan bentuk yang ditawarkan di atas potongan bidang warna kuning yang rata-rata diulang secara repetitif (tidak terlalu melenceng dari ikon aslinya).
Karena ini adalah tawaran “suka-suka” maka sebagai “seniman modern” (ya, begitulah kita dengan hormat menyebut para peserta tawaran ini) kita bisa menyimak permainan visual di atas bidang legendaris itu. Sederhana memang. Tapi dari kesederhanaan itu muncul kebermainan yang menggugah memori kita terhadap buku gambar yang sangat akrab di mata di saat kanak-kanak kita.

Selanjutnya Emji menawarkan tantangan bebas memodifikasi gambar 2 gunung yang juga (lagi-lagi) tak bisa lepas dari memori kanak-kanak kita sewaktu ada pelajaran menggambar. Gambar 2 gunung, sawah kotak-kotak dan rumah, matahari di tengah gunung seolah-olah menjadi “diktum” gambar kanak-kanak kita sehingga hasilnya seragam. Tiada yang bisa disalahkan juga kenapa rata-rata hasilnya bisa sangat kompak dan sama semua pada waktu itu, karena tak semua guru yang mengajarkan gambar pada waktu itu memang bukan guru gambar sebenarnya (atau malah nggak bisa gambar sebenarnya) sehingga ia menyodorkan “pattern” yang “harus” ditiru. Lucu memang.

Dari tawaran memodifikasi 2 gunung ini terjaring 170 anggota dengan 34 karya. Tentu saja daftar ini akan semakin bertambah.

Dan kita sebagai penikmat bisa terhibur menyimak macam-macam modifikasi yang ditawarkan. Seperti misalnya karya Sindi Ibnusina yang mengubah kedua gunung “yang sangat legendaris itu” menjadi gambar 3 piramid dengan gambar mata di atasnya. Atau karya Chaka Endiers yang menjadikan 2 gunung itu menjadi kaver buku pelajaran Matematika terbitan Balai Pustaka dengan mengubah kedua gunung itu menjadi dua penggaris segitiga sedangkan jalan di tengah diubah menjadi penggaris. Ada lagi karya Kelli Mandalina yang mengubah 2 gunung itu menjadi tumpukan es krim warna-warni yang menggoda dan menggugah selera.

Karya Kelli ini nampak mencoba “mengelola” warna-warni yang riang, begitu juga karya Jeany Pebriwayani yang mengubah 2 gunung tadi menjadi gambar 2 orang yang mengenakan topi kertas berbentuk segitiga dari koran dengan diberi warna-warni di kanan-kiri yang meriah berkesan kanak-kanak sehingga “pattern” 2 gunung tersebut tampak hilang sama sekali.

Ada pula karya Dio Lombardo Jordison yang mengubah 2 gunung legendaris tersebut menjadi gunung es pada bidang sebelah kanan, ditambahkan gambar-gambar dinosaurus di sisi jalan raya. Hasilnya jadi terkesan surealis yang berfungsi sebagai penyegar ide. Ada juga karya Robo Wobo yang mengubah gambar sawah didepannya menjadi gambar seorang pengendara sepeda motor.

Seperti halnya tawaran pada “drawing book” di sini yang ditampilkan adalah kebermainan mengolah pola atawa “pattern” yang legendaris itu menjadi sebentuk karya baru yang kuat unsur kebermainannya.

Selamat bermain!

Rawamangun, Juni 2010

Ditulis oleh: Donny Anggoro

Posted: Juli 5th, 2010
Categories: project
Tags:
Comments: No Comments.

Jenaka Berbalut Sarkas

Artikel di Media Cetak Sinar Harapan, 12 Juni 2010

ditulis oleh Donny Anggoro

Perkenalkan, Eko. Lengkapnya Eko S. Bimantara. Komikus kelahiran Jakarta,30 Mei 1988 ini memang sedang bercanda. Tapi kalau kita simak candaannya tak sekedar bercanda. Ada sindiran dan tentu saja nuansa sarkasme yang dibalut dengan cergas. Komikus yang saat ini masih menempuh studinya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Fakultas Seni Rupa memang beda.

Ia memang berlaku konyol dalam kedua bukunya yang belum lama terbit, Guru Berdiri Murid Berlari (terbit Desember 2009) dan Kompilasi Komik Rada Lucu (KRL, terbit Mei 2010). Walau konyol tapi banyak pesan tersimpan dalam komik–komiknya itu. Dan kesemuanya berhasil tersaji dengan lugas tanpa pretensi mengarifi apalagi menggurui. Ada pencapaian tentang upaya bersikap kritis terhadap masalah di sekitar dalam komik-komiknya. Pendek kata, ada kejenakaan berbalut sarkas dalam komiknya. Gambarnya sederhana dan masih berkubang dalam kekonyolan, resep yang rata-rata dicapai komikus muda kita belakangan ini. Meski kekonyolan bukan hal yang baru dalam komik kita tapi tetap ada sesuatu yang ditawarkan komikus yang sehari-harinya bergiat di komunitas seni rupa bernama Serrum ini.

Tak ada tokoh sentral dalam komik-komik Eko. Cerita-ceritanya pendek-pendek saja, hanya terbagi dalam empat panel ringkas, sesudah itu, selesai. Dan ia memang tak sedang menciptakan sosok ala Mickey Mouse baru seperti komik-komik kebanyakan. Semuanya arbitrer-mana suka-dan memang Eko sedari awal memang tidak bermaksud menciptakan sosok bahkan tokoh hero sekalipun.

Oleh penerbitnya, Gradien Mediatam dari kota gudeg Yogyakarta kedua bukunya langsung optimis dicetak masing-masing sebanyak 5000 eksemplar. Dibanderol masing-masing seharga Rp. 15.000 perak saja per komik, ihwal “penemuan” penerbit terhadap karya komiknya pun terbilang unik. Konon mereka kepincut tatkala menyaksikan komik-komik Eko ini ditampilkan di situs jejaring sosial Facebook walau semula kedua komik ini beredar fotokopian secara indie dari tangan ke tangan. Dalam situs ini terjaring penggemar sebanyak 3448 fans sehingga membuat pihak penerbit percaya komik Eko bakal disentuh peminat tatkala dicetak dan ditebarluaskan ke dalam bentuk yang lebih “terhormat” bernama buku.

“Semuanya dikerjakan dari jarak jauh lewat e-mail dan pos surat. Bahkan saya sendiri sampai sekarang belum pernah bertemu muka dengan pihak penerbit,” tutur Eko, pemuda ramah berkulit putih berdarah Jawa yang lahir dari latar belakang urban Jakarta.

Pada buku pertama yang diberi tajuk “Glitik Sosial Dunia Pendidikan Sekitar Kita” Eko memerlihatkan gambar seorang guru yang marah-marah tatkala menyaksikan dirinya disebut galak oleh seorang muridnya di kelas. Setelah anak yang mengaku menuliskannya disuruh maju ke depan untuk menghapusnya, bukan tulisan “galak’ yang dihapusnya, melainkan ditambahkan kata “gila” sehingga jadi “Pak Agus Gila”. Sebuah guyon segar yang sontak memancing tawa kita sebagai pembaca. Lucu, ringkas dan sederhana, itulah resep yang dikeluarkan Eko tatkala meramu komik-komiknya yang mengaku ide-idenya banyak didapat dari hasil diskusi dengan teman-teman komunitasnya di Serrum.

Pada panel lainnya lagi Eko memerlihatkan pertengkaran seornag bapak dengan anaknya. Sang bapak ingin anaknya langsung kerja sedangkan sang anak ingin luliah dulu. Sang bapak marah karena sekolah hanya buang-buang duit saja. Tapi tatkala ketika mereka menyaksikan iklan televisi acara “The Masker” (plesetan dari “The Master”) dimana di situ biasanya orang menjadi “kelinci percobaan” sang paranormal atau magician seperti Deddy Corbuzier untuk dihipnotis atau berbuat apa saja menurut kehendak magician, sang bapak mengusulkan anaknya ikut acara itu saja supaya “langsung dapat duit”. Hal itu langsung disetujui anaknya. Aha, disini tanpa berpanjang lebar Eko tengah mengangkat budaya masyarakat kita yang mudah “termamah” iklan televisi. Ikut program begituan nyatanya lebih penting daripada sekolah!

Sedangkan pada buku kedua (kompilasi KRL) Eko memerlihatkan sosok Superman yang mampu menghentikan kereta KRL yang relnya terputus. Walau mampu menolong, ia tak bisa menolong orang-orang yang duduk di atas KRL karena mereka tetap terjatuh walau sudah ditahan sekuat tenaga oleh sang superhero!

Meskipun masih berkubang dalam arena “kekonyolan”, resep jitu yang konon masih dipakai duet Benny & Mice, komikus kondang dari komik strip harian Kompas Minggu, “Benny & Mice”, jika diperhatikan kedua komik Eko bukan komik anak-anak. Memang lucu dan sedikit berbau “kekerasan” yang mengingatkan kita pada komik Crayon Sinchan. Tapi di situ ada kritik sosial yang mendalam dilontarkan komikusnya. Apalagi jika kita tahu maksud komik KRL (Komik Rada Lucu) di salah satu bagiannya ada maksud edukasi dari komikus kepada penumpang kereta listrik KRL untuk tidak naik ke atap kereta. Oleh keponakan sastrawan Yanusa Nugroho ini, KRL dimaksudkan sebagai upaya memberikan kritik atas permasahan yang terjadi di sekitarnya, khususnya di Jabodetabek. Makanya, jika kita menyaksikan komik-komik Eko terkesan ‘Jakarta banget’. Tak pelak lagi dunia komik kita telah mencatat salah satu perkembangan yang patut dicapai yang semoga dapat terus menggairahkan perkembangan komik kita dari amsa ke masa. Komik-komik Eko berhasil “menggugat tapi tetap menggigit”.

Selamat buat Eko. Ditunggu karya selanjutnya yang lebih punya visi dan makna. Sekali lagi, selamat!

Rawamangun, Mei 2010

Edisi spesial KartiniKomik strip dalam KRL#edisi spesial Kartini

Posted: Juni 27th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: 1 Comment.

Fixer ‘Ini Baru yang Namanya Pameran Kontemporer!’

Serrum

Serrum

Serrum

Jum’at 18 Juni 2010 pukul  16.00 lalu, sebuah pameran dibuka di Galeri North Art Space, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Sebuah pameran yang diadakan oleh pihak manajemen Galeri NAS, dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Effendy.

Pameran ini layaknya seperti sebuah gathering, ajang berkumpulnya komunitas dan ruang alternatif yang bergerak dibidang Seni Rupa se-Indonesia, berhasil diikuti oleh 21 peserta:
Akademi Samali (Jakarta), Asbestos Art Space (Bandung), Atap Alis (Jakarta), BYAR Creative Industry (Semarang), Common Room Networks Foundation (Bandung), Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), House of Natural Fiber (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Jatiwangi), Kampung Segart (Jakarta), Malang Meeting Point (Malang), Maros Visual Culture Initiative (Jakarta), Performance Club (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), Ruang Akal (Makassar), Ruang Mes56 (Yogyakarta), Sarueh (Padang Panjang), Serrum (Jakarta), Tembok Bomber (Jakarta), Urbanspace (Surabaya), & Video Lab (Bandung).

Pameran ini menampilkan karya-karya yang mempresentasikan komunitas, baik berupa produksi karya artistik secara bersama maupun individu sebagai sebuah pernyataan artistik, maupun kesadaran organisasi komunitas terhadap publik dengan mengelola, baik secara mandiri maupun kolaborasi, kegiatan untuk publik luas seperti pameran, lokakarya, festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film/ video, website, pengarsipan dan penelitian.

Pameran ini juga menyajikan presentasi dan diskusi dari setiap komunitas yang menjadi peserta pameran, pada 19-20 Juni 2010, menyoal seputar aktivitas dan eksistensi komunitas itu sendiri. Diskusi dan presentasi ini terbagi menjadi beberapa wacana:

1. ‘Keberlanjutan organisasi, program dan strategi lokal’

2. ‘Proyek seni rupa dan kolaborasi’

3. ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ dan

4. ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’

Pada diskusi ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’ tanggal 20 Juni 2010, ‘Serrum’ diwakilkan oleh M.Sigit Budi.S sebagai salah satu presentator sekaligus ketua komunitas, mengatakan bahwa Serrum sendiri tidak menyadari bahwa komunitasnya sudah dapat diterima sebagai komunitas yang bergerak di ruang kota/ruang publik, selama ini Serrum sendiri adalah sebuah wadah yang  membangun fokus terhadap dunia pendidikan melalui medium Seni Rupa.

Walaupun Ardi Yunanto sebagai moderator pada saat itu menyimpulkan bahwa pembahasan tentang wacana ‘Seni (dan) Ruang Publik’ masih perlu dimatangkan kembali, namun Serrum sendiri memang mengakui bahwa aktifitasnya dalam merespon ruang kota/ruang publik sebagai media berkarya adalah hal yang dilakukan secara konsisten, berkesinambungan dan terprogram, karena kegiatan itu merupakan sebuah bentuk realisasi konsep awal terbentuknya Serrum sebagai badan organisasi yang  mengetengahkan komunikasi kepada publik.

Presentasi dan diskusi membuat ajang kumpul-kumpul komunitas ini menjadi sangat menarik. Banyak pembahasan yang perlu dilanjutkan dan wacana-wacana baru yang perlu dibedah untuk pencapaian pemetaan dalam perkembangan dunia Seni Rupa di Indonesia. Semoga ini adalah sebuah awal yang baik.

Gustaf  ‘Common Room’, pada saat diskusi tentang ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ mengatakan sebuah candaan yang boleh dibilang kontroversial;

‘Bahwa pameran inilah yang sebenarnya dibilang pameran kontemporer, bukan seperti yang sedang dikompetisikan di Indonesian Art Award’.

Selamat untuk Fixer.

Selamat untuk kita semua.

Bahasan yang sama bisa dilihat juga di:

Fixer@Indonesiaseni.com

Posted: Juni 24th, 2010
Categories: info
Tags:
Comments: No Comments.

Press-Sure Exhibition

Minggu malam 16 Mei 2010, pada pukul 20.00, Serrum mengadakan sebuah pembukaan pameran airbrush ‘PRESS-SURE’, sebuah pameran yang bertajuk ‘first Jakarta airbrush art exhibition/ pameran seni rupa airbrush pertama kali di Jakarta’ ini diramaikan oleh pengunjung yang antusias, baik dari kalangan kampus maupun orang luar, terbukti dari ramainya suasana di pelataran halaman dan kafe di Serrum pada malam itu.

Acara pembukaan pameran dimeriahkan oleh sebuah performance dari beberapa pameris, Emji, Atto dan Pay, aksi lukis airbrush diatas kertas dengan diiringi oleh eksperimental musik menggunakan penbrush sebagai alat tiup, kalau saya boleh menamakannya mungkin: ‘Alternative ekxperimental  audio performance’ :D .

Pameran ini diikuti oleh tujuh orang pameris dengan latar belakang yang berbeda, namun memiliki satu ketertarikan dan aktif dalam berkarya dengan menggunakan media airbrush.

Arief Widiarso (Atto) disini mencoba menampilkan eksplorasi lukis airbrush yang dapat di terapkan pada objek atau benda-benda seperti T-Shirt, Seng bahkan ia menampilkan lukis airbrush pada sebuah ‘body part’ motor vespa dan memajangnya layaknya karya instalasi. Hamdi Ahadi, menampilkan karya ilustrasi dua dimensi dengan media airbrush diatas kertas, Rizky Saptoro Elfiari (Jaue Maxx) bereksplorasi dengan T-shirt, Pay menampilkan sebuah ‘body painting’  dengan patung manekin sebagai modelnya, Tonny Herdianto dengan lukis diatas kanvasnya, dan MG Pringgotono dengan eksplorasi media airbrush di beberapa objek yang ‘tak terpikirkan’, MG disini berhasil memunculkan airbrush sebagai media dengan fungsi manipulasi, contohnya sebuah karya MG yang menarik adalah lukisan diatas kayu, dengan gambar seorang lelaki bersama seekor kucing di pasang di langit-langit galeri, secara sekilas kita akan melihat langit-langit itu seperti berlubang dan ada orang yang mengintip dari lubang itu. Lebih menarik lagi adalah idenya untuk ‘menyulap’ tembok ruang galeri menjadi tampilan papan kayu dengan menggunakan airbrush dan berhasil direalisasikan bersama Arief Widiarso (Atto).

Tujuan dari pameran ini merupakan sebuah gerilya dari para pelaku seni airbrush (airbrusher) untuk mematangkan wacana airbrush sebagai salah satu media yang juga memiliki peranan lain dalam dunia Seni Rupa, sebuah ruang apresiasi yang konteksnya membuka pandangan publik tentang  kreatifitas yang bisa dijamah oleh airbrush berbeda dengan yang selalu kita dengar dan kita ketahui umumnya.

Ardi Yunanto dalam tulisannya mengatakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan lain yang dapat dicapai dari potensi besar yang tersembunyi dari airbrush diluar konteks komersilnya yang konvensional.

‘..masih banyak ide yang bisa digali, terutama kalau berdasarkan kepekaan kita atas berbagai permasalahan yang terjadi di ruang publik, dengan kepekaannya, pemahaman objeknya, kemampuan realisme tingkat tingginya, daya manipulasinya, kelenturannya diatas bidang gambarnya, tidak hanya bisa berguna bagi orang banyak dan membuat airbrush mempunyai pesan sosial. Namun juga bisa menjawab, sekaligus melampaui tudingan atas airbrush yang selama ini hanya digunakkan sebagai hiasan produk…’

Juga seperti yang dikatakan Winanda Suciyadi dalam tulisannya,

‘Hadirnya pameran PRESS-SURE kali ini semoga saja dapat menjadi jalan bagi mereka (airbrusher) untuk menghadirkan karya-karya yang berbeda dari biasanya, lebih orisinil, personal lebih mengejutkan, dan lebih lagi.’

Posted: Mei 17th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: 3 Comments.

Kuliah terbang# 19

Posted: Mei 8th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: No Comments.

Review Kuliah Terbang #18

Posted: April 30th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: No Comments.

Press-Sure

Posted: April 26th, 2010
Categories: program
Tags:
Comments: 2 Comments.

Kuliah Terbang #Spesial


Posted: Maret 30th, 2010
Categories: info, program
Tags:
Comments: 1 Comment.