Archive for the 'Kliping Media' Category

14 Des

Arti Sebuah Perbandingan

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Hari-hari terakhir ini kita dikejutkan oleh demo kaum minoritas India di Malaysia. Kita saksikan dari tayangan televisi internasional seperti CNN dan BBC World Service, mereka menggunakan cara-cara damai seperti mendiang Mahatma Gandhi yang sejak permulaan abad ke-20 melawan berbagai tindak kelaliman di India.
Ini sesuai dengan seruannya untuk melawan tanpa kekerasan (Ahimsa), melakukan […]

14 Des

Buang Angin dan Ludah 2009

Oleh: Emha Ainun Najib
SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi ”tercebur”, tapi secara tata bahasa itu dipaksakan.
Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak […]

30 Nop

Lagi-Lagi Pelanggaran Konstitusi

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
PADA 25 November 2007 sekitar jam 13 WIB, penulis mendapat telepon dari teman lama, Holland Taylor, yang berada di Surabaya menemani Prof Nasr Hamid Abu Zayd. Guru Besar Universitas Leiden, Belanda, itu diundang oleh Departemen Agama untuk menyampaikan pikiran-pikirannya tentang Islam di sebuah seminar di Malang.

26 Nop

Babak Baru Politik Kita

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
SAAT konferensi kerja Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur pada tahun 1970- an di kantor NU Jawa Timur, Jalan Darmo Raya,Surabaya,seorang rais Syuriah cabang NU di Jawa Timur bertanya sekaligus mencela sikap Rais Syuriah PWNU Jatim KH Machrus Ali.
Dalam pertanyaan sekaligus gugatan itu dia bertanya mengapa Rais Syuriah NU Jatim […]

23 Nop

Kita Para ”Indon”

TIGA pekan lagi, 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke acara Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.
Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sesudah itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah […]

18 Nop

Tradisional Belum Tentu Kolot

Hampir semua tulisan tentang Nahdlatul Ulama (NU) menyimpulkan bahwa perkumpulan itu sangat tradisional. Ini tentu saja dapat dimengerti karena dalam kenyataan para pemimpin perkumpulan itu memang tradisional dalam bentuk lahiriah. Umumnya mereka mengenakan sarung.
Kalaupun bercelana,mereka menggunakan sandal, bukannya sepatu. Pengecualian dalam hal ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah dan iparnya, KH M Bisri Syansuri,orang […]

15 Nop

Sang Pejuang, Sang Kiai

Akhir-akhir ini kita mendengar pernyataan berbagai pihak yang meminta agar Bung Tomo diberi gelar pahlawan nasional. Karena alasanalasan politik, Orde Baru tidak memberikan gelar itu kepadanya.
Memang terasa tidak adil terhadap Bung Tomo jika gelar itu tidak diberikan kepadanya karena alasan-alasan politik.Tetapi dalam halini ada sebuah sebab lain yang berada di belakang ”keharusan sejarah”atas langkah […]

15 Nop

Peran Narkoba dalam Pembangunan

DI kedua lengan tangan bawah saya bagian dalam terdapat sejumlah goresan kecil-kecil yang kayaknya nggak bisa hilang.
Orang yang meliriknya normal kalau menyimpulkan itu bekas luka-luka suntikan narkoba, tanpa bisa menemukan alasan apa pun untuk menggeremeng di dalam hatinya kenapa orang macam saya pasti bebas dari narkoba. Luka-luka itu berasal dari praktik Ilmu Hijamahnya Rasulullah […]

15 Nop

Aliran Sempalan dan Pembinaan

Oleh : Said Aqiel Siradj
Ketua PBNU
Munculnya ‘aliran-aliran sesat’ kiranya bisa menjadi otokritik buat umat Islam. Selama ini, mungkin materi dakwah yang disampaikan lebih bersifat monoton dan banyak nuansa ketidakseriusannya. Dakwah kita tidak lagi bersifat mengajak, tapi lebih terkesan memprovokasi, sehingga mudah sekali memunculkan kebencian di kalangan umat. Pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi, seperti kasus Ahmadiyah Qodiyan, […]

09 Nop

Persamaan dan Perbedaan Kiai

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
KH Abdul Wahab Chasbullah lahir sebagai anak kaya di Bibis, Kota Surabaya. Ibunya memiliki ratusan rumah di daerah tersebut yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi.

Ja'alanallahu waiyyakum minal 'aadina wal faaiziin