Curhat

Di setiap bulan Syawal semua umat Islam merayakan hari kemenangan ini. Biasanya kesempatan setelah itu adalah saling bermaafan satu sama lain. Pada kesempatan ini, halaman khusus ini dibuat untuk saling bersilaturahmi antar kita. Silahkan menyampaikan saling bermafaan semoga di hari Fitri tahun bisa memberikan sinergi kehidupan bagi kemanusiaan.

Segenap krue web site dan semua komponen di Buntet Pesantren ingin menyampaikan Mohon maaf lahir dan Batin. “Ja’alanallahu waiyyakum minal ‘aidiina wal faiziina at thahirin”….

37 Responses to “Curhat”

  1. admin Says:

    Minal ‘Aidin Wal faizin
    Kullu ‘am wantum bikhoir
    SElamat Idul Fitri 1428 H.
    Dari Kurtubi & Keluarga

  2. mustolih siradj Says:

    ALUMNI BUNTET JADI CALON WALI KOTA BEKASI

    Ahmad Syaikhu dilahirkan di desa Ciledugkulon Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon pada 23 Januari 1965, putra kelima dari pasangan , K.H Ma’soem bin Aboelkhair, dan Nafi’ah binti Thohir.
    Pendidikan dasar sampai dengan kelas V dilaluinya di SDN Ciledug III. Seiring dengan kepindahan ayahnya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Sindanglaut Cirebon ia melanjutkan ke SDN Lemahabang II hingga lulus. Pendidikan menengah pertama dilaluinya di SMPN Sindanglaut Cirebon dilanjutkan ke SMAN Sindanglaut Cirebon setelah itu dilanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) . Pendidikan agama diperolehnya dari orang tua, kakak, guru privat dan kiyai-kiyai di Pondok Pesantren Buntet Cirebon.
    Setelah menyelesaikan pendidikan di STAN, ia menikah dengan teman sekampusnya, Lilik Wakhidah. Dari pernikahan itu dikaruniai oleh Allah tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Pertama, Muhammad Kamil (mahasiswa Syari’ah and Economic Banking Institute). Kedua, Muhammad Yasir Naufal (siswa SMAN 61 Jakarta Timur). Ketiga, Sarah Karimah (siswa SMPN 109 Jakarta Timur). Keempat, Muthi’ah (santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan). Kelima, Izzuddin Hamas (siswa SDIT IQRO’ Pondok Gede). Keenam, Aisyah Wafa Syahidah, (Taman Bermain Adinata Pondokgede).
    Ahmad Syaikhu menjalani ikatan dinas sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatera Selatan di Palembang dari 1986 hingga 1989 kemudian dilanjutkan pada BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah.
    Pada Pemilu 2004, ia dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai anggota di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi. Masuknya ia ke dunia politik berkonsekuensi ia harus mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil. Kini ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi.
    Sejak sekolah dasar ia sudah aktif mengikuti kegiatan pramuka. Di SMP dan SMA, ia aktif mengikuti dan menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra sekolah (OSIS). Ketika kuliah di STAN, aktivitas organisasi itu salurkan melalui Senat Mahasiswa sebagai Ketua Bidang Kerohanian Islam dan Ketua Masjid Kampus Baitul Maal Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan (BPLK).
    Bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan At-Tibyan (Jakarta Timur) yang bergerak dalam pendidikan Islam dengan membuka TPA, Yayasan Istiqomah Bina Umat (IBU) di Pondok Gede Bekasi yang bergerak dalam Tahfidzul Qur’an (menghafalkan Al-Qur’an) dan Yayasan Lembaga Amil Zakat Tabung Amanah Umat (LAZ-TAMU) di Pondokgede yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan kesehatan. Yayasan Adzkia di Bekasi Timur yang bergerak di bidang sosial dan ekonomi.
    Dalam pandangannya, agar dakwah tetap berjalan, diperlukan adanya komitmen dari setiap aktivis dakwah terhadap Islam dan Gerakan Islam, di samping dukungan dari masyarakat.
    Saat ini ia juga aktif sebagai Dewan pengawas Yayasan Islamic Center IQRO’ Pondokgede yang merupakan pelopor sekolah Islam terpadu. Selain itu ia juga diamanahi menjadi Ketua Ta’mir Masjid Annur, Yayasan Miftahul Amal Bojong Rawalele Jatimakmur Pondokgede Bekasi.
    Kesibukan kerja tidak menghalanginya secara rutin ikut dalam kegiatan olahraga bulutangkis sepekan dua kali dan menembak. Sekarang ia dipercaya untuk menjadi Ketua Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) Cabang Kota Bekasi. Kemampuan menembak diperolehnya saat mengikuti kegiatan pembekalan Konsepsi Nasional bagi pimpinan dan anggota DPRD se-Indonesia gelombang I di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional) bertempat di Sekolah Polisi Negara Lido Sukabumi, di mana ia ketika itu menempati peringkat pertama dalam menembak.
    Ia menilai bahwa era reformasi merupakan momentum untuk memperbaiki berbagai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menerapkan good governance (tata kelola kepemerintahan yang baik). Kunci keberhasilan untuk mewujudkan itu semua adalah pengabdian, ketekunan dan kebersamaan. mungkin ada yang berminat jadi tim suksesnya?
    Lihat wesite www.ahmadsyaikhu.com

  3. Suwasono Says:

    Bagamana kalau pesantren tidak hanya mencatut nama-nama alumni yang tersohor saja, tapi juga nama-nama alumni yang paling bentorang (mbeling) sekalipun didunia ketidak karuanan. dan ini baru namanya tampil beda.
    Oh ya… paling tidak diungkap mengapa dia bisa sampai se-mbeling itu ?

  4. cung Says:

    salaikum, maaf mungkin telat tapi ga ada kata terlambat untuk minta maaf dan minta maafpun tidak harus dibulan syawal ketika lebaran, jadi saya minta maaf ya.. atas semua kesalahan. saya senang web site buntet jadi lebih menarik, mungkin ini adalah hikmah dari erornya web buntet kemarin, he..he.. positif thinking aja ya… oh iya sekedar informasi mumpung di rubrik halal bihalal kemarin alumni buntet yang di jogja (INSAN BPC) mengadakan acara halal bi halal yang bertempat di widasari Indramayu, penceramah waktu itu KH. Cecep Idzomuddin (maaf kalo salah nulis nama), alhamdulillah acara terlaksana dengan baik dan lancar.

  5. Anonymous Says:

    bagaimana klo setiap bulannya segala aktivitas santri buntet di beritakan…………supaya kta yg jd alumni tau bagaimana siskon bntet????????

  6. Zaldeeho Says:

    Kematian adalah “jalan tol” yang akan ditempuh siapapun yang bernyawa.
    Tidak ada hambatan orang yang hendak mati dalam kondisi apapun bisa
    terjadi. Termasuk sebuah kematian yang terkesan memilukan, mengenaskan
    atau kematian yang tragis.

    Malam tadi, sekitar pukul 22.00 seorang warga Muda Buntet Pesantren
    Cirebon bernama M. Fayumni (Yumni) lulusan MANU Buntet telah meninggal
    dunia. Dugaan sementara akibat tabrak lari. Polisi dan warga
    menemukannya malam tadi pukul 21.00 WIB. Setelah dibawa ke rumah sakit
    Pelabuhan, petugas pelabuhan mengabarkan kepada keluarga di Buntet
    pukul 22.00 WIB. Setelah jam 02.00 dinihari, akhirnya nyawa Fayumni
    tidak bisa ditolong kembali.

    Kejadian di temukan polisi di jalan dekat Pesantren Kempek Cirebon
    Barat. Diajak temannya Lukman lulusan pesantren Ploso, asal Mertapada
    Kulon. Seperti biasanya mereka berteman dan pergi jalan-jalan ke
    Cireobn. Namun peristiwa naas itu menimpa mereka berdua.

    Lukaman masih koma di rumah sakit. Terlihat kakinya terpotong karena
    benturan yang hebat. Menurut prediksi polisi, saat Lukman dan Yumni
    berkendaraan, situasi gelap, dan kemduian dalam kondisi kencang, motor
    itu menabrak trotoal. Otomatis guncangan senggolan trotoar ini
    menjadikan Yumni terpental ke jalan begitu pula Lukman si pengendara
    terjatuh. Nah, ketika Lukman di jalan mungkin ada mobil kencang yang
    tidak bisa terkendali sehingga terlindas. Adapun motornya tidak rusak
    sama sekali hanya gores-gores saja.

    Atas kebaikan warga, maka dilarikan mereka berdua di UGD RS Pelabuhan
    Kodya Cirebon. Kemudian jam 22.00 malam hari, Makhrus salah satu
    keluarga Yumni mendapat telepon dari Rumas Sakit.

    ***

    Kematian tragis seperti ini pernah menimpa kyai kita di Buntet
    Pesantren. Misalnya KH. Shodik, kakak dari KH. Basith. Bahkan kematian
    yang lebih tragis seperti pembunuhan terjadi juga di antara para
    sahabat-sahbat Nabi saw bahkan cucu Nabi saw pun mengalami peristiwa
    tragis pula.

    Namun kematian menurut Mang Apu, KH. Mahfudz Bahri, kyai kharismatik
    di Cirebon, Paman Fathi Royyani mengatakan saat beliau mengisyhadi
    salah satu keluarganya yang meninggal tertabrak kereta.

    “Kematian yang terkesan tragis itu kan dilihat dari sudut pandang
    orang-orang hidup. Bagaiaman jika sudut pandang dari yang meninggal,
    itu bisa jadi merupakan kematian yang dirasakan nikmatnya.”

    Jadi sebuah kematian yang tdak bisa diundur dan dimajukan, juga
    sesuatu ketetapan yang tidak bisa dihindari, akan terjadi kepada
    siapapun juga. Siap atau pun tidak siap menghadapi kematian sang mati
    tetap akan menjemput kita. Semoga kita khusnul khotimah. Wallahu a’lam.

  7. Anonymous Says:

    assalamu’alaikum…….
    mo tanya dalam kitab ta’lim muta;alim menjelaskan tentang akhlak kepada siapa and akhlaknya tu kyk pa? thx

  8. Mukhamad Khadik Says:

    Assalamu’alaikum………
    Kang punten mau nanya? kalau pondok buntet pesantren punya mitra dengan pesantren NU di luar cirebon g?
    Saya kan kebetulan sekarang lagi tinggal di bandung, ada juga pesantren NU di sana namanya Pesantren Al Burhan yang tempatnya di daerah Cigadung - Bandung. Gmn kalau ada acara2 di buntet itu diberitahukan? Supaya jejaring NU itu meluas kemana-mana.

  9. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. Says:

    Untuk para pelajar pesantren mengetahui rencana Allah dalam menciptakan agama-agama sejak Adam sampai kiamat, artinya sampai habis gelap terbitlah terang-benderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2) ayat 257 dan menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama-agama dan didalam agama yang telah terpecah-belah menjadi 73 firqah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 dan Yohanes 1:18,19,20,21 dan mengetahui rencana Allah akan menyatukan umat beragama awal millennium ke-3 masehi sesuai maksud An Nahl (16) ayat 93, maka kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANADAKOESOEMA” (ASAL CIREBON)
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakitan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  10. Muhamad Alwi Says:

    Al-Qur’an dan Al Hadiths sudah cukup sebagai panduan dalam mengenal Allah SWT yang jika dibedah isinya belum tentu bisa di jamah oleh Akal Manusia mungkin hingga yaumul Qiyamah. Panduan untuk mengenal kitab suci Alqur’an adalah Al-Hadiths.

  11. Muhamad Alwi Says:

    Allah SWT tuhanku dan Muhammad SAW sebagai nabi dan rosul Allah SWT yang terakhir adalah harga mati.

  12. the Deddy Says:

    assalammu’alaikum maaf menyela sebentar, mungkin saudara2 skalian dah tau satu forum yang namanya faith freedom indonesian yang notabene adalah salah satu forum penghujatan bagi kaum islam dan sangat2lah jelas di dalamnya memuat penghinaan yang sekiranya jika dibuka dan dibaca maka akan panas telinga kita.
    sebenarnya kita dapat melawan mereka smua asal kita mau bersatu, tapi bukankah alangkah baiknya forum itu ditutup saja.
    saya hanya bertanya-tanya mana kepedulian pemerintah dan MUI serta kita smua dalam hal membela islam.
    sudikah kita dihina dan diinjak-injak???
    untuk itu sebagai muslim saya hanya mengingatkan, kita harus bersatu untuk menegakkan islam.

  13. Dimas audi priyadi Says:

    Assalammu’alaikum wr wb
    Kang..nyai..n punteeeeennn….ikut ngomong neh serta teman-teman alumni perlu diingat bahwa akhir-akhir ini kita mendengar jika seorang ibu membunuh kedua anaknya hanya karena takut miskin….nah oleh sebab itu… buat temen-temen alumni yang ada di antero dunia…yuk kayanya kita mesti membangun masyarakat dengan pendekatan kepada mereka dengan siraman rohani…karena saya yakin dengan dakwah yang dilakukan oleh para kyai..(guru kami tercinta)n temen2 alumni yang insya allah ilmunya berkah..(Amiiii,,,,n )meminimalkan perbuatan ini…ditempat kami sudah jarang pengajian…entah banyak sekali alasannya mau tau ??
    1. Karena nda ada dana untuk memanggil para penceramah
    2. Karena tempat kami tidak populer dengan para penceramah
    3. dan entah laen2nya, salah satunya karena pemuda ditempat kami lebih senang bermaen musik, jalan2, n bergaya pada dunia sinetron n barat…
    Do you know…??? solusinya….Pusing coy…..!!!! karena susah..!!!
    Oh..ya kenapa seh kita para alumni buntet tidak membangun komonitas sebagai wadah lapangan kerja buat temen-temen kita yang masih mengangur..
    aku punya usul neh.. buat temen2 yang ingin berinvestasi untuk membangun usaha, yang mana entarnya adalah para temen-temen alumni yang membutuhkan pekerjaan.. yuuuuuk…kita coba kumpul..kapan?? n dimana Tapi hari yang paling baek untuk kita kumpul adalah saat HAUL en sekarang sudah selesai.. sukses ya buat para panitia..
    salam hormat saya buat :
    kang salman, kang fahad, kang ratu, kang basit, keluarga besar asrama L, Asrama Al banin (kang anis, kang Anas, Keluraga besar Alistiqomah, Falfut, subaniyah, Alkhiaroh, alhikmah dan semua guru-guru saya..di BUNTET PESANTREN. ILOVE U ALL

  14. lina marlina Says:

    Assalamu’alaikum wr,wb,
    aq mo curhat ya…
    aq alumni buntet,dari lulus aq lom pernah lg ke buntet.Sbnrnya aq kangen deh pgn ke buntet,suasana pedesaan yg sgt asri.Tapi kemaren saat haul aq beranikan diri ke buntet, sowan ke bu Nyai, tapi apa yang aq terima aq di sambut dengan ucapan yg tidak mengenakan dari anak bu Nyai sebut aja kang F “kemana aja kamu selama ini kok baru muncul kamu lupa ya dulu makan, minum dan bab di sini” saat aq langsung terdiam, bukannya aq tidak mau sowan aq ngrasa blm sukses tar apa yg bisa saya sumbangin untuk pesantren baik moril maupun materil.setelah sampai di rumah aq merenung,bukankah aq datang ke pesantren itu untuk menuntut ilmu dan selama aq di pesantren kan bayar ga gratis.Setelah kejadian itu Aq jd males untk dtg lg ke buntet.Maaf kalo aq curhat di sini,aq harap perilaku2 yg seperti itu harus di ubah, santri juga manusia lho.

  15. Samsul Munir Says:

    Kepada Pengelola Artikel santri Buntet :
    Bersama ini saya kirimkan tulisan mohon bisa dimuat di Artikel atau ulisan santri Buntet. Atas dimuatnya disampaikan terima kasih. (Samsul Munir)

    SASTRA PESANTREN
    (TINJAUAN KEHIDUPAN SASTRA DI LINGKUNGAN PESANTREN)

    Oleh : Samsul Munir Amin

    Sulit dipungkiri, bahwa pesantren adalah suatu lembaga kemasyarakatan yang cukup lekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia . Meminjam istilah yang dikemukakan mantan presiden RI ke 4, KH. Abdurrahman Wahid, pada sekitar 1970-an, bahwa pesantren adalah sebagai sub kultur. Sub kultur dalam strata sosial masyarakat Indonesia .
    Dalam penulisan sastra, pesantren sebagai obyek boleh dikata belum memperoleh perhatian serius dari para sastrawan kita, sekalipun banyak diantaranya memperoleh pendidikan di pesantren. Kalau ada pun belum cukup banyak.
    Untuk menyebut karya sastra yang penulisannya berdasarkan latar belakang pesantren, masih bisa dihitung dengan jari, jika dibandingkan dengan thema-thema lain dalam sistem kemasyarakatan kita. Misalnya Jamil Suherman yang menulis serangkaian serpen-cerpenya dalam Pejuang Kali Pepe, menceritakan kehidupan pejuang dari pesantren dalam bentuk cerita yang menarik. Kemudian Muhammad Rajab, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung, cukup kental dengan kehidupan alam pesantren yang cukup bersahaja itu. Sekalipun belum bisa menggambarkan tentang kehidupan pesantren secara “utuh” namun kedua penulis tersebut cukup mampu mengekspresikan kehidupan-kehidupan di pesantren walaupun hanya dalam bagian-bagian tertentu saja.

    Jiwa Pesantren
    Sebuah karya sastra yang tidak berlatar-belakang pesantren akan tetapi mencerminkan kehidupan jiwa pesantren, ada terdapat dalam karya cerpen Robohnya Surau Kami , karya AA. Navis sastrawan gaek dari Sumbar yang baru-baru ini meninggal itu. Karya tersebut tidak mengungkapkan kehidupan pesantren secara langsung, akan tetapi jiwa atau semangat yang ditampilkannya adalah jiwa pesantren. Permasalahan yang ditampilkan adalah ciri tipical pesantren, yang di Sumatra Barat dikenal dengan surau. Sebenarnya thema-thema tipical kehidupan pesantren cukup menarik apabila ditampilkan dalam cerita. Misalnya thema tentang idiologis, politik, pendidikan, faham prediterministik (qadariyah) , diterministik (jabariyah) , bahkan thema cinta santri sekali pun.
    HAMKA sastrawan yang ulama dan sejarawan itu, dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah, maupun juga dalam Tenggelamnya kapal Van der Wijck , tidak mengungkapkan kihidupan tipical pesantren, sekalipun HAMKA tidak terlepas dari kehidupan pesantren atau surau. Thema yang diungkap dalam kedua novel religious itu adalah thema cinta yang universal sebagaimana thema-thema karya sastra novel-novel pada umumnya, walaupun tentu saja dilatarbelakangi oleh kehidupan dan nuansa religious.

    Orang-orang pesantren
    Memang ada karya yang ditulis oleh orang pesantren sendiri, yang pembahasannya agak mendalam mengenai kehidupan dan jiwa pesantren. Karya itu antara lain buku memori otobiografi karya Saifuddin Zuhri Guruku Orang-orang dari Pesantren (1979). Karya ini memang merupakan otobiografi penulisnya yang dibesarkan di dunia pesantren dan menjadi tokoh NU dan pernah menjadi Menteri Agama RI. Karya ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Belanda dan Jepang. Kemudian buku ini diteruskan penulisnya dalam buku Berangkat dari Pesantren (1990), buku ini terbit setelah penulisnya meninggal. Juga buku biografinya KH. Ahmad Syaikhu berjudul Kembali ke Pesantren. Dan sekarang telah menjamur buku-buku biografi seseorang. Namun terkadang buku-buku biografi itu, merupakan buku biografi pada umunya, yang nilai sastranya minim — dan memang bukan dikhususkan bagi penulisan karya sastra.
    Para penulis kontemporer sastra Indonesia dewasa ini, juga tidak banyak yang menulis pesantren sebagai obyeknya. Memang ada beberapa karya Ahmad Tohari, novelis dari Jatilawang Purwokerto yang menyinggung kehidupan pesantren, misalnya “Pengemis dan Shalawat Badar”, yang terdapat dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin (1992). Karya- karya Tohari lainnya seperti Kubah, Di Kaki Bukit Cibalak, Bekisar Merah, Belantik, berbicara tentang religiousitas dalam kebanyakan masyarakat, namun tidak secara khusus berbicara tentang masyarakat pesantren. Malah dalam karyanya Trilogi : Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala, Tohari malah bercerita dengan latar belakang ronggeng yang amat kental, sehingga dengan karyanya itu, dia banyak mendapat kritikan .
    Cerpen-cerpen Emha Ainun Najib, juga belum banyak berbicara tentang thema kehidupan pesantren — walaupun beberapa diantaranya ada, walau Cak Nun sendiri berlatarbelakang pesantren, apalagi Jombang terkenal dengan kota santrinya. Serial Kiai Sudrun, memang mengarah kesana.
    Akhir-akhir ini malah sudah mulai banyak novel-novel populer keagamaan yang ditulis oleh para penulis muda kreatif, seperti komunitas muda di Yogyakarta juga Bandung, dan Semarang yang membukukan novel-novel keagamaan yang ternyata laris. Misalnya Sundus dan Sekar karya Istiah Marzuki, Sketsa Putih kumpulan cerpen karya Jazim Al-Mukhyi, mereka berdua alumnus PP Al-Munawir Krapyak Yogyakarta, Penerbit LKiS Yogyakarta, juga menerbitkan karya-karya cerita bernuansa pesantren, antara lain kumpulan cerita religius karya penulis, berjudul Sorga di Bawah Telapak Kaki Ibu , (2005). Tiga buku yang lain karya penulis berthema tentang cerita keagamaan juga telah diterbitkan antara lain : Dan Pastur pun Berthawaf (2003), Bidadari Qur’ani (2004), Pintu Surga Telah Terbuka (2005). Novel dengan sedikit latar belakang pesantren, ditulis oleh Muhammad Muhyiddin dengan judul Menjemput Bidadari, penerbit Kata Hati, Yogyakarta, (2005). Novel ini bahkan ditulis dengan setting sebuah pesantren di Wonosobo, karena penulisnya adalah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UNSIQ Wonosobo, juga karya-karya lain Muhammad Muhyiddin berlatar belakang pesantren seperti trilogi Ma’rifat Cinta, Penerbit Diva Yogyakarta, Kitab Cinta Yusuf Zulaikha (2007) dll. Penerbit Mata Pena Yogya, As-Syamil, dan Kelompok Lingkar Pena juga menerbitkan beberapa novel keagamaan bernuansa pesantren.
    Beberapa karya penulis novel religius terkemuka saat ini Habiburrahman El-Syirazi, penulis Ayat-Ayat Cinta, juga menulis novel dengan berlatar belakang pesantren seperti Di Atas Mihrab Cinta, Di Atas Sajadah Cinta dll. Habiburrahman adalah alumnus Pesantren Mranggen Demak.
    Namun jika dibandingkan dengan thema-thema umum lain jelas masih belum sebanding, misalnya dengan karya-karya : Sutan Takdir Alisyahbana, NH Dini, Motinggo Busye, Titi Said, Lastri Fardani, Mira W, Marga T, Zara Zetira, YB Mangunwijaya, dan lain-lain.
    KH. Mustafa Bisri, kiai penyair dari Rembang memang dikenal sebagai sastrawan, namun sepengetahuan penulis belum menulis karya novel. Walaupun menurut hemat penulis, jika Gus Mus menulis novel juga bisa. Gus Dur ketika masih menjabat ketua PBNU pernah menyatakan akan menulis karya novel, karena Gus Dur juga dikenal sebagai pembaca novel serius, namun sampai kini tampaknya belum terwujud, malah lebih tertarik dalam bidang politik.
    Sebenarnya dalam kehidupan pesantren, amat kental dengan nuansa-nuansa sastra, terutama dalam bahasa atau sastra Arab. Dalam literatur-literatur pesantren kajian dan thema sastra sebenarnya cukup banyak. Sebut saja, kitab Alfiyah karya Muhammad ibn Malik al-Andalusi yang membahas tentang tata bahasa dan parama sastra Arab terdiri dari 1000 bait, yang sebagaian besar para santri dan kiai hafal bait demi bait bahkan hafal dari belakang atau terbalik. Imam Syafi’i ulama fiqh pendiri mazhab Syafi’i juga dikenal sebagai sastrawan, bahkan beliau menulis Diwan al-Syafi’i yeng berisi puisi-puisi. Para kiai juga bisa membuat syair spontan baik dalam bahasa Arab atau Jawa yang bagus. KH. MA. Fuad Hasyim dari Pesantren Buntet Cirebon misalnya, menulis syair-syair religius dalam bahasa Arab dan bahkan dijadikan lirik lagu qasidah dan dikasetkan. Termasuk KH Bisri Mustofa (ayah KH. Mustofa Bisri) dari Pesantren di Rembang yang membuat lirik-lirik syair pujian tombo ati yang kemudian diadaptasi modern dan diiringi musik oleh Emha Ainun Najib dengan Kiai Kanjengnya itu.
    Karya sastra dalam bentuk novel yang ditulis dalam bahasa Arab sebenarnya cukup banyak. Untuk sekedar menyebut novel-novel klasik yang amat femilier dalam masyarakat pesantren adalah Maulid al-Barzanji, Maulid al-Dida’i, novel tentang biografi Nabi Muhammad saw, Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, novel sastra biografi Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Namun dalam perkembangan berikutnya memang terjadi semacam stagnan bagi perkembangan novel sastra Arab dewasa ini, termasuk di lingkungan pesantren.

    Bukan Cerita Fiktif
    Langkanya karya sastra berlatarbelakang kehidupan pesantren, bukannya tanpa alasan. Ada beberapa sebab yang dapat dikemukakan mengapa sedikit sekali kehidupan pesantren digambarkan dalam kesusastraan kini.
    Gus Dur mengemukakan dua alasan. Pertama, karena persoalan dramastis di pesantren berlangsung pada “tarap therminologis” yang tinggi tingkatnya. Soal abstrak seperti determinasi (al-jabru), free destination (iradah), intensitas ketundukan kepada Tuhan dan sebagainya, sukar sekali dituangkan dalam sebuah cerita fiktif.
    Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap manifestasi kehidupan beragama di negeri kita. Dengan demikian, naluri sastra dan elastisitas bentuk penceritaan tidak memperoleh jalur pelepasan .
    Karena itu karya-karya sastra yang kontra dan memusuhi ajaran agama, sering mendapatkan reaksi yang keras dari masyarakat. Masih ingat Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin? atau The Satanic Verces karya Salman Rushdi? Karya-karya sastra itu mendapat reaksi keras dari masyarakat. Salman Rushdi, novelis Inggris, karena dianggap menghujat umat Islam lewat karya The Satanic Verces itu, oleh Ayatullah Khomaini (Republik Islam Iran) malah diancam hukuman mati.
    Dalam era reformasi sekarang ini, dimana kebebasan berkreasi, berekspresi dan berkarya dibuka lebar, maka sudah logis jika dunia pesantren membuka diri dengan dunia luar. Boleh jadi para novelis perlu nyantri ke pesantren agar mengetahui kehidupan pesantren yang sesungguhnya, dan kemudian menuangkannya dalam bentuk karya sastra agar wacana tentang pesantren menjadi lebih lengkap.
    Dan perlu diingat bahwa melalui karya-karya sastra, tradisi kepenulisan sastra klasik yang pernah berjaya pada masa Islam klasik bisa diteruskan di lingkungan pesantren. Bukankah tradisi kepenulisan melalui karya sastra juga merupakan dakwah bil qalam yang merupakan bagian penting dalam tradisi budaya Islam? ***

    Drs. Samsul Munir Amin, MA, alumnus Pesantren Buntet Cirebon, kini Dosen Mata Kuliah Indonesian Culture Fakultas Bahasa dan Sastra UNSIQ, dan Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi UNSIQ Wonosobo. alumni Higher Education Leadership and Management Course MicGill University Montreal Canada (2006).

  16. wawan sugiyanto Says:

    Webnya yang lebih aktif dan tajam lagi ya kang, supaya bisa jadi rujukan keluarga besar santri dan alumni buntet, bagi saya tempat merujuk terbaik atas segala persoalan adalah KYAI, mudah-mudahan web ini bisa jadi solusi untuk itu.

  17. hendra Says:

    sy mimpi sy disuruh datang kebuntet pesantren dengan ciri ciri orangnya memakai udeng udeng warna hijau.
    kalau saya boleh tau ada apa ya, alamat yang jelasnya alamat pasantren ini dimana ya.

  18. Sam - Wonosobo Says:

    Buat Lina Marlina

    Lina, kamu enggak usah mikirin omongan anaknya bu Nyai waktu kamu ke Khaul Buntet kemarin. Memang terasa enggak enak di hati, tapi ikhlaskan saja. Karena dibalik omongan anaknya bu Nyai tersebut, sebenarnya ada suatu yang kamu tidak ketahui: Sesungguhnya kita “saling kangen” kita “saling rindu” untuk bersilaturrahim. Jadi dia itu “mangkel” karena kamu lama nggak main ke sana. Jadi menurutku kamu nggak usah terlalu dipikirin omongan itu. Toh bagaimana pun memang kita perlu untuk saling memupuk silaturrahim. Saya juga almunus Buntet, dan lama enggak ke sana. Tapi memang kitaaaa perlu merenungkan hal-hal positif, agar ilmu kita menjadi lebih bermanfaat kelak. jadi jangan sedih, anggap saja itu teguran agar kita terus memupuk silaturrahmi. Oke Lina? Ambil Hikmahnya.

    Sam - Wonosobo

  19. nana Says:

    duh..baru 2 bulan rasanya aQ meninggalkan penjara suci,tapi,,,kuangeeen abizz!!pa lg ma elt oemah tercinta,,he3.to all sun3 buntet,met berpuasa en berpacaran,eh..salah pasaran ria!!kalian harus menikmatinya karena suasana ramadnan yg paliiing seru adalah di buntet tercinta!1ojo pd nguantuk baee..btw koQ ga da info ramadhan cee,na mo nanya ne buat pasaran kitab pa yang mo d’pacarin?lam buat keluarga besar nadwatul ummah khususnya en sun3 buntet umumnya na rinddduuuuu……

  20. ayatihi Says:

    duh…ga terasa Q dah 3 bulan meninggalkan buntet,Q jadi kuangen buangets…rasanya pengen main ke sana lagi,Q pengen ngaji pasaran lagi di sana.buat nak-nak buntet,khususnya nak-nak AL-FIRDAUS met PUASA and met NGAJI PASARAN yupz…??MAJU TERUS PANTANG MUNDUR…
    LAM KANGEN TO:NAK-NAK AL-FIRDAUS and USTADZ-USTADZ KU.
    ayatihi_jogja08@yahoo.com

  21. oktorita Says:

    Assalamu’alaikum wr,wb,
    Salam Hormat untuk guru besar saya :
    KH. Abdul Hamid Anas “Al Falahiyah Futuhiyah”

  22. sofiyan Says:

    aku kngn bngt nih ma buntet sma tmn-tmnku di sana,sama guru-guruku,kang A’im,kang Mul,kang Muiz,tmn2xku semuanya

  23. sofiyan Says:

    kalo ada yang baca tulisanku tolong ya,sampaikan kata-kata maaf ku kpd tman2xku Oji-Firdaus-Singgih-Yuli-Jafar-Yani-Ajo-Ali-Saeful
    (sinyo)-dan khusus buat khafidz===Nok ALVIN(i miss u)=nok Nida=Ihah(bkn ikhah kan?)

  24. sirojudin al karawangi Says:

    ass

    maaf ikutan curhat..sekitar thn 2005 di PP An Nur Bantul saya knl ma ssorang yang membuat hatiku bergetar, tp sayang dia dah punya calon, dan denger2 dah nkh sekarang, wanita itu adalah ‘ba puji astuti, ntah dmn sekarang, aku kangen banget..,smg Allah Yang Maha Mengatur mempertemukan kembali. Amin

  25. caesafeli Says:

    assalamu’alaikum..
    ak asli purbalingga ( banyumas ),skarang lagi kuliah di UNY. ak kmarin tanggal 10 syawal baru aja ikut pengajiannya Kiai abbas di Jatisaba,Purbalingga. Beliau sangat berkemauan keras menegakan islam dan dalam wadahnya para ulama yaitu NU. Dari situ, ak ada keinginan seperti beliau,,

  26. iwie Says:

    gabung ych….???

    Alhamdulillah ane dulu sempet mesantren di BUNTET tepatnya di asrama NADWATUL BANIN - BANAT (NB) dg KH.Anis Manshur,padahal awalnya ane ga mau masuk pesantren, tapi setelah ane 3th menuntut ilmu di buntet,ane baru merasakan betapa pentingnya seorang anak di didik melalui jalan pesantren.
    Dan ketika ane boyong,kaki ane seakan ga mau melangkah untuk meninggalkan BUNTET. karna dari tempat itu lah ane mandaptkan banyak ilmu yang benar2 bermanfaat,hingga akhirnya sekarang ane bisa kuliyah di UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.
    Terimakasih ku untuk semua Civitas BUNTET PESANTREN.

  27. m.Top Says:

    YANG MASIH KENAL SAMA G TOLONG KABARIN GW

  28. M.Top Says:

    BUAT KYAI-KYAI SAYA MAKASIH BANYAK ATAS PEMBERIAANYA DAN ATAS DOAANYA,SEMOGA SEHAT DAN PANJANG UMUR……….

  29. mamada Says:

    minta tlg kalo tau alamt ki sudrun.pengenya nanggap klo punya acara khitanan anak saya.

  30. Khozinnul asror (oji) Says:

    jujur gw kangen banget ama yang di buntet. & gw punya cerita neh …pa lagi nasi kuningnya ema yang samping al-inaroh.

    awalnya gw pengen masuk UIN ciputat terus temen gw (NUNU anak H usman itu)pengen mondok lg pas tamat di Manu, eh taunya gw yang mondok Nunu yang kull i UIN,.
    “Faidza azamta fatawakkal a’laallah” mungkin ayat itu yang buat gue jadi ketawa heheheeee….salam dari gw buat obi (kmn aja lo), iin, fitri, keke,agus tegal priben kabare koen,LIli bini gw dulu, ifah dermayu bini gw dulu jg,terus yang pernah pacaran ma gw (gw kan ganteng) anak 2x as-sakiroh, nurushobah, an-nur,al banin (alam), asrama EL,al- inaroh,kang fahat, semuanya deh…

  31. Khozinnul asror (oji) Says:

    Buat lina , lin lo ga usah negatif tingking gitu dong lo kan tahu karomahnya buntet , ni gw kasih tahu bah qrian itu wali bahkan sebagian kaul mengatakan beliau itu ahlul bait. otomatis dalam darah putri kiyai lo tuh ada darah walinya , terus lo dah brani brani ngomang nyurhatin kesalah faham yang menurut gw ga penting banget , lu ga takut kualat , gini lo lin gw brani ngelawan tuh orang kalo tu orang dah brani ngejelekin buntet walaupun sebenernya gw ga brani tapi pasti gw brani-braniin, karna apa gw percaya yang nulungin gw ntar di akhirat tuh kyai kyia buntut termasuk anak kyai lo,lin mendingan lo sekarang ke buntetdeh kalo emang lo ga mau hidup lo susah baik secara dohir maupun batin , gw sih ngingetin elo aja karna gw jg ga mau ada alumni buntet yang hidupnya susah makanya gw ngomong gini jujur gw sayang ama semua santri buntet,

  32. Khozinnul asror (oji) Says:

    innalillahi waina lillahi rojiun mudah mudah temen kita bang fayummi (yumi) gw tahu bener tuh anak , oarangnya asyik , akhlaknya baik , khidmah sama kyia2x buntet , mudah mudahan fayummi segala amal ibadahnya di terima oleh allah swt amiin.. bibarokati ummul qur’ an Al- fatihah……

  33. dodi Says:

    sorri kang-kang ……. nyai-nyai Kyai-Kyai ………..
    kita sing Surabaya Pengen melu patung omongan kanggo kita-kita kabeh

  34. dodi Says:

    kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
    ketika kita menangis?
    ketika kita membayangkan?
    itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

    ketika kita menemukan seseorang yang
    keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
    dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
    serupa yang dinamakan cinta.

    Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
    seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
    tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
    melainkan suatu awal kehidupan baru,
    kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
    mereka yang telah dan tengah mencari dan
    mereka yang telah mencoba.
    karena merekalah yang bisa menghargai betapa
    pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
    mereka.

    Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
    menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
    adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
    kamu masih menunggunya dengan setia.

    Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
    kamu masih bisa tersenyum dan berkata
    ” aku turut berbahagia untukmu ”

    Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
    biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
    kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
    cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
    kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

    Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
    mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
    yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
    bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
    kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
    dan menyadari bahwa penyesalan tidak
    seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
    sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
    yang telah kau buat.

    Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
    lupa ….”
    menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
    tunggu sebentar ”
    tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
    sendiri ”
    mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
    belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
    mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
    melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
    melainkan bagaimana kamu memaafkan.

    Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
    melainkan bagaimana kamu mengerti.
    bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
    yang kamu rasa,
    bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
    bagaimana kamu bertahan.

    Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
    berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
    itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
    menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
    apabila kita melepaskannya.

    kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
    orang yang tak pernah menyatakan cinta
    kepadamu, karena takut kau berpaling dan
    memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
    menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
    sadari

  35. MOH.ZAINUS SUBKHAN Says:

    mau kenalan ma kang subhan kunjungi moh.zainussubkhan@yahoo.com
    disana qt akan berbagi ilmu, pengalamn, dan mempererat silaturrahim antar muslim.
    insyallah fii al-khair.

  36. nuraferri Says:

    salammm smua nya dr anak2 pemalang

  37. muhammad akbar Says:

    ass..
    saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan bagi siapa yg bsa menjwab pertanyaan saya ini..
    saya ingin masuk pondok ini kira2 cuma 1 bulan, bisa ga yah?
    karena untuk mengisi liburan kuliah saya, saya ingin mengisi kegiatan yg bermafaat..
    kira2 ada yg tau ga informasinya?

Leave a Reply

Ja'alanallahu waiyyakum minal 'aadina wal faaiziin