Sep 18th, 2008
2 Tahun SERRUM
Dalam rangka menyambut ulang tahun daripada SERRUM yang dinyatakeun di Rawamangun Jakarta. Dibuatlah dalam padanya cerita dalam gambar bergerak ini. Judulnya; “beginilah nasib seniman deadline”
Dalam rangka menyambut ulang tahun daripada SERRUM yang dinyatakeun di Rawamangun Jakarta. Dibuatlah dalam padanya cerita dalam gambar bergerak ini. Judulnya; “beginilah nasib seniman deadline”
the karoon video wats up!!!
…turut menggundang anda berbagi ceria dan cerita dalam 2 tahun perjalanan kami, serta menikmati sajian yang kami berikan, dari kami : Arif Kuriawan, Arief Rahman, MG Pringgotono, JJ Adibrata, Gunawan W, M Sigit Budi S, RM Herwibowo, Arif Widiarso, Ari Suprayogo, Lutfi Sabdakir, Restu Ratnaningtyas, Winanda Suciyadi, Wawan Setiawan, Ronald Qodariansyah, Eko S Bimantara.
fyi : guno ( 081311244303 )
“LOWBROW ATTAACCKKK..”
Pemateri :Hendra ’hehe’ Harsono
Kamis 28 Agustus’08’ jam.19.00 WIB
Serrum kebanjiran makanan hari kamis tgl.28 agustus kemaren. Kita menyediakan bermacam minuman soda, serta merta cemilan diplastik higienis dan berprotein tinggi, plus roti unyil. Sedikit romansa menggigil setelah sebelumnya diguyur hujan. Sebelumnya sempat pergi sebentar untuk menikmati bakso di depan komplek, dengan harapan sewaktu pulang ada tamu-tamu atau setidaknya teman-teman sesama kampus, yang sudah duduk di alas yang disediakan. Ternyata kita mulai hanya dari kita, untuk kita, oleh kita.
Hendra’hehe’Harsono adalah seseorang seniman, desainer grafis, pemilik clothing, dan pecinta sepeda yang berasal dari Jogja. Beliaulah yang menjadi pemateri Kuliah Terbang edisi yang ke#14 kemarin. Salah satu dari sekian seniman muda saat ini, yang mempunyai kecenderungan visual, yang terinpirasi oleh karya-karya Lowbrow. Kedatangannya ke Jakarta dikarenakan berkenaan dengan adanya urusan untuk berpameran di jakarta, bersama kekasihnya (yang personil serrum juga), sekaligus menjemput dan membawanya untuk tinggal di Jogja. Namun kita berhasil menculiknya sesaat untuk mencoba berbagi ilmu dan pengalaman berkeseniannya. Berawal perdebatan arman dan atto di suatu malam mengenai fenomena Lowbrow, ..yang mau dibawa kemans bro??..dan tanggung jawab pula sebagai seseorang teman yang diminta untuk meriset hal tersebut, alhasil diundanglah hendra’hehe’ saat itu.
Seperti apa yang ditulis di kitab Wikipedia, bahwa asal muasal dikenalnya Lowbrow Art, adalah pada akhir tahun 1970-an. Padahal secara tidak disadari dan tidak terdeteksinya oleh media, serta belum adanya wacana yang masuk, karakter-karakter pada film kartun dan komik mad era tahun 60’an, ialah bagian terdekat yang tidak dapat dilepaskan pada ciri-ciri karya pada Lowbrow sendiri. Namun pada saat itu banyak yang menilai karya-karya tersebut sebagai karya yang beraliran pop surealis. Dan penggunaan kata lowbrow sendiri dicetuskan oleh Robert Williams, di awal tahun 1990, beliau adalah pioneer di scene lowbrow sejak awal, dan founder dari Juxtapos Magazine, salah satu media yang besar sampai saat ini, dan selalu mengulas karya-karya lowbrow itu sendiri. Pada awalnya kecenderungan karya-karya lowbrow sebagian besar berasal dari para ilustrator, desainer cover kaset, dan para komikus underground. Objek yang ditampilkan pada karya tersebut berupa mobil-mobil hotrods, ikon-ikon pop yang telah didistorsi, hingga figur dan karakter yang merepresentasikan sang senimannya sendiri. Bila mengatakan ini adalah sebuah pergerakan, antiklimaks, perlawanan kebijakan dalam ruang-ruang museum modern, pada zaman itu memang dapat dikatakan demikian. Bila melihat akarnya, dan pola pikir dari pergerakan itu sendiri, dadaisme lah saya rasa yang menghadirkan itu semua. Namun perbincangan kuliah terbang kemarin lebih meluas kepada perkembangan karya lowbrow yang berkembang di negara kita. Hendra’hehe sendiri menyebut itu sebagai dan hanya sebuah fenomena visual saja, saya pun melihatnya demikian, sebagai seniman yang tinggal di dunia ke 3, hal itu pasti terjadi. Pada pameran ‘ini baru ini’ di ViviYip tempo hari, Aminudin T.H.Siregar selaku sang kurator pameran tersebut juga menulis mengenai kecenderungan karya-karya seniman yang mengikuti pameran tersebut, yang sebagian besar terinspirasi pada karya-karya lowbrow. Apakah ini akan menjadi fenomena baru di negara ini, atau mungkin akan memuncak menjadi trend di dunia berkesenian senirupa, saya rasa kita tunggu hingga 2 tahun kedepan. Terima kasih Hendra’hehe’Harsono atas share ilmunya.
M.Sigit Budi.S
Riset dan Dokumentasi