English:
SERRUM is a non-profit organization that concerns in social-education through the medium of visual art.
Concepted on October 17, 2004, SERRUM consists of some fraction of already exsisting artist communities in Jakarta. They have similiar vision to actualize appliccable activities in the society's daily living.
'SERRUM' is taken from the words 'share room' interpreted as a 'Space to share'.
Serrum focuses on establishing a form of alternative education, the one that transfers through art.
Indonesian:
SERRUM adalah organisasi nirlaba yang bergerak dalam lingkup sosial-pendidikan melalui medium seni rupa.
Terbentuk pada 17 Oktober 2004, SERRUM merupakan gabungan dari beberapa pecahan komunitas perupa yang ada di Jakarta, dengan misi memajukan program kegiatan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Nama ‘SERRUM’ tercipta dari asal kata ’share room’ yang dapat diartikan sebagai ‘Ruang Untuk Berbagi’.
Fokus Serrum yakni membangun sebuah pola pendidikan alternatif, pendidikan melalui Seni.
Contact Us
Email : serrum_studio@yahoo.com
phone : +6221 819 4737
Address:
Jln.Kayu Manis 2, no.12, Kel.Kayu Manis, Kec. Matraman, Jakarta Timur, Indonesia.
Jum’at 18 Juni 2010 pukul 16.00 lalu, sebuah pameran dibuka di Galeri North Art Space, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Sebuah pameran yang diadakan oleh pihak manajemen Galeri NAS, dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Effendy.
Pameran ini layaknya seperti sebuah gathering, ajang berkumpulnya komunitas dan ruang alternatif yang bergerak dibidang Seni Rupa se-Indonesia, berhasil diikuti oleh 21 peserta:
Akademi Samali (Jakarta), Asbestos Art Space (Bandung), Atap Alis (Jakarta), BYAR Creative Industry (Semarang), Common Room Networks Foundation (Bandung), Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), House of Natural Fiber (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Jatiwangi), Kampung Segart (Jakarta), Malang Meeting Point (Malang), Maros Visual Culture Initiative (Jakarta), Performance Club (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), Ruang Akal (Makassar), Ruang Mes56 (Yogyakarta), Sarueh (Padang Panjang), Serrum (Jakarta), Tembok Bomber (Jakarta), Urbanspace (Surabaya), & Video Lab (Bandung).
Pameran ini menampilkan karya-karya yang mempresentasikan komunitas, baik berupa produksi karya artistik secara bersama maupun individu sebagai sebuah pernyataan artistik, maupun kesadaran organisasi komunitas terhadap publik dengan mengelola, baik secara mandiri maupun kolaborasi, kegiatan untuk publik luas seperti pameran, lokakarya, festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film/ video, website, pengarsipan dan penelitian.
Pameran ini juga menyajikan presentasi dan diskusi dari setiap komunitas yang menjadi peserta pameran, pada 19-20 Juni 2010, menyoal seputar aktivitas dan eksistensi komunitas itu sendiri. Diskusi dan presentasi ini terbagi menjadi beberapa wacana:
1. ‘Keberlanjutan organisasi, program dan strategi lokal’
2. ‘Proyek seni rupa dan kolaborasi’
3. ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ dan
4. ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’
Pada diskusi ‘Strategi artistik di ruang kota dan warga’ tanggal 20 Juni 2010, ‘Serrum’ diwakilkan oleh M.Sigit Budi.S sebagai salah satu presentator sekaligus ketua komunitas, mengatakan bahwa Serrum sendiri tidak menyadari bahwa komunitasnya sudah dapat diterima sebagai komunitas yang bergerak di ruang kota/ruang publik, selama ini Serrum sendiri adalah sebuah wadah yang membangun fokus terhadap dunia pendidikan melalui medium Seni Rupa.
Walaupun Ardi Yunanto sebagai moderator pada saat itu menyimpulkan bahwa pembahasan tentang wacana ‘Seni (dan) Ruang Publik’ masih perlu dimatangkan kembali, namun Serrum sendiri memang mengakui bahwa aktifitasnya dalam merespon ruang kota/ruang publik sebagai media berkarya adalah hal yang dilakukan secara konsisten, berkesinambungan dan terprogram, karena kegiatan itu merupakan sebuah bentuk realisasi konsep awal terbentuknya Serrum sebagai badan organisasi yang mengetengahkan komunikasi kepada publik.
Presentasi dan diskusi membuat ajang kumpul-kumpul komunitas ini menjadi sangat menarik. Banyak pembahasan yang perlu dilanjutkan dan wacana-wacana baru yang perlu dibedah untuk pencapaian pemetaan dalam perkembangan dunia Seni Rupa di Indonesia. Semoga ini adalah sebuah awal yang baik.
Gustaf ‘Common Room’, pada saat diskusi tentang ‘Perluasan ruang, teknologi dan media’ mengatakan sebuah candaan yang boleh dibilang kontroversial;
‘Bahwa pameran inilah yang sebenarnya dibilang pameran kontemporer, bukan seperti yang sedang dikompetisikan di Indonesian Art Award’.
Minggu malam 16 Mei 2010, pada pukul 20.00, Serrum mengadakan sebuah pembukaan pameran airbrush ‘PRESS-SURE’, sebuah pameran yang bertajuk ‘first Jakarta airbrush art exhibition/ pameran seni rupa airbrush pertama kali di Jakarta’ ini diramaikan oleh pengunjung yang antusias, baik dari kalangan kampus maupun orang luar, terbukti dari ramainya suasana di pelataran halaman dan kafe di Serrum pada malam itu.
Acara pembukaan pameran dimeriahkan oleh sebuah performance dari beberapa pameris, Emji, Atto dan Pay, aksi lukis airbrush diatas kertas dengan diiringi oleh eksperimental musik menggunakan penbrush sebagai alat tiup, kalau saya boleh menamakannya mungkin: ‘Alternative ekxperimental audio performance’ .
Pameran ini diikuti oleh tujuh orang pameris dengan latar belakang yang berbeda, namun memiliki satu ketertarikan dan aktif dalam berkarya dengan menggunakan media airbrush.
Arief Widiarso (Atto) disini mencoba menampilkan eksplorasi lukis airbrush yang dapat di terapkan pada objek atau benda-benda seperti T-Shirt, Seng bahkan ia menampilkan lukis airbrush pada sebuah ‘body part’ motor vespa dan memajangnya layaknya karya instalasi. Hamdi Ahadi, menampilkan karya ilustrasi dua dimensi dengan media airbrush diatas kertas, Rizky Saptoro Elfiari (Jaue Maxx) bereksplorasi dengan T-shirt, Pay menampilkan sebuah ‘body painting’ dengan patung manekin sebagai modelnya, Tonny Herdianto dengan lukis diatas kanvasnya, dan MG Pringgotono dengan eksplorasi media airbrush di beberapa objek yang ‘tak terpikirkan’, MG disini berhasil memunculkan airbrush sebagai media dengan fungsi manipulasi, contohnya sebuah karya MG yang menarik adalah lukisan diatas kayu, dengan gambar seorang lelaki bersama seekor kucing di pasang di langit-langit galeri, secara sekilas kita akan melihat langit-langit itu seperti berlubang dan ada orang yang mengintip dari lubang itu. Lebih menarik lagi adalah idenya untuk ‘menyulap’ tembok ruang galeri menjadi tampilan papan kayu dengan menggunakan airbrush dan berhasil direalisasikan bersama Arief Widiarso (Atto).
Tujuan dari pameran ini merupakan sebuah gerilya dari para pelaku seni airbrush (airbrusher) untuk mematangkan wacana airbrush sebagai salah satu media yang juga memiliki peranan lain dalam dunia Seni Rupa, sebuah ruang apresiasi yang konteksnya membuka pandangan publik tentang kreatifitas yang bisa dijamah oleh airbrush berbeda dengan yang selalu kita dengar dan kita ketahui umumnya.
Ardi Yunanto dalam tulisannya mengatakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan lain yang dapat dicapai dari potensi besar yang tersembunyi dari airbrush diluar konteks komersilnya yang konvensional.
‘..masih banyak ide yang bisa digali, terutama kalau berdasarkan kepekaan kita atas berbagai permasalahan yang terjadi di ruang publik, dengan kepekaannya, pemahaman objeknya, kemampuan realisme tingkat tingginya, daya manipulasinya, kelenturannya diatas bidang gambarnya, tidak hanya bisa berguna bagi orang banyak dan membuat airbrush mempunyai pesan sosial. Namun juga bisa menjawab, sekaligus melampaui tudingan atas airbrush yang selama ini hanya digunakkan sebagai hiasan produk…’
Juga seperti yang dikatakan Winanda Suciyadi dalam tulisannya,
‘Hadirnya pameran PRESS-SURE kali ini semoga saja dapat menjadi jalan bagi mereka (airbrusher) untuk menghadirkan karya-karya yang berbeda dari biasanya, lebih orisinil, personal lebih mengejutkan, dan lebih lagi.’
Pameran dibuka pada pukul 19.30 WIB. Kali ini Galeri Serrum mempersembahkan Angga Cipta (Acip), seorang mahasiswa seni rupa yang aktif berkarya. Disini dia menampilkan statement-statement verbal dan visual sekaligus dalam setiap karyanya.
Statement = State * men * t
secara harfiah, state adalah negara bagian atau tempat dimana kau berinteraksi dan bersosialisasi
men adalah penggambaran sosok karakter pribadi
dan “t” adalah time, maka statement adalah hasil perkaliannya.
Yaitu sebuah bentuk pengungkapan ekspresi personal melalui bahasa verbal dalam menjawab semua fluktuasi kondisi dan kejadian-kejadian disekitar state itu sendiri dalam ruang dan waktu
Dalam pameran tunggalnya kali ini, Angga Cipta atau biasa dipanggil Acip akan menghadirkan berbagai statement kedalam bahasa visual berupa karya-karya berbagai medium seperti screen-print,graphic, video, dan lukis.
Statement seorang anak muda dan mahasiswa yang bertarung dalam kerasnya hidup dan situasi perkuliahannya.
Kurator : M. Sigit Budi
Galeri Serrum
Pembukaan : Rabu, 24 Februari 2010 jam 19:00
dimeriahkan oleh Dias-Dimas Show
dan launching VENTA HOUSE merchandise
Jl. Kayu Manis II no.12, Kayu Manis, Matraman – Jakarta Timur
Galeri Serrum untuk kedua kalinya telah menyajikan sebuah pameran. Kali ini mengangkat judul L.O.V.E yang berasal dari akronim Live On Visual Emotion. Idenya berasal dari tiga orang personil Serrum yakni, JJ.Adibrata, Ludzfi sabdakir dan M.Sigit Budi. Sebuah ide tentang representasi kata Love (cinta) dalam pandangan personal yang di ekspresikan malalui sebuah projek pameran kolaborasi.
Pameran kolaborasi
M.Sigit B.S, Ludzfi Sabdakir dan JJ Adibrata
Galeri Serrum , 12 Februari 2010
“love is more than just a game for two..” (Nat King Cole)
Di suatu sore yang pengap, entah mengapa si office boy kami senyum-senyum sendirian setelah baru saja menghilang selama beberapa jam. tanpa ditanya dia menginformasikan sesuatu “ gw abis aja making love bang dakir…”. Sekedar informasi, office boy kami itu kurang memahami arti kata “making love” tersebut, dan dia menafsirkan kata “making love” itu sama dengan kata bertemu dengan pasangan atau “pacaran”. Lucu memang bahwa OB(Office Boy) kami lebih memilih kata “making love” dibanding kata yang umum digunakan masyarakat indonesia seperti “pacaran”. Sebegitu dahsyatnya-kah kata love itu?. Lantas kemudian terbentuk sebuah asumsi, emang apa sih “Love (Love/lav/ kb: cinta) ” ?. “Genit ah,.. ini soal pacaran yah…” hmm… engga juga sih.. emang kalo gw cinta ama kucing gw (kami namai kucing kami “Sapi” karena bercorak hitam putih yang mirip dengan seekor sapi) berarti gw lagi pacaran ama tu kucing?. Atau kalau gw sayang sama sebuah sepatu converse robek jadul gw itu berarti gw sedang pacaran sama tuh sepatu?.. engga juga kan.. Mengambil jalan singkat, kami mengeneralisasi bahwa cinta itu adalah sebuah SEMANGAT..!!. Iya-loh, semangat membagi, semangat memberi, semangat menerima, semangat berubah, bisa dianalogikan sebagai cinta. Ya ga.? Hahay,.
Dan kemudian kami mencoba menginterpretasikan kata “LOVE” dengan cara kami sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa kami hidup dengan berada di dunia visual. Dengan cara visual-lah kami mengaspirasikan ide. Maka dilandasi dengan kebanggaan akan latar belakang pendidikan yang sama (pendidikan seni rupa) serta berbagai pengalaman tentang semangat “LOVE” yang pernah ada, kami mengusik memori kami tentang “LOVE” lewat berbagai bentuk yang dapat dinikmati bersama. Hasilnya adalah, sebuah kolaborasi kerja antara kami bertiga tentang bermacam cerita atau pengalaman pribadi dari kata “LOVE” lewat medium visual.
Kami nantikan kedatangan kalian dengan membawa semangat “LOVE”..
mumpung deket-deket valentine nih..
Aku sayang kamyu..!!
Special perfomance by:
*” Versus sensasi” in collaborate with “The Weekend Project”
Eko S Bimantara (kiri), bersama kurator sekaligus project officer pameran M. Sigit Budi. S.Pd
Salah satu karya mural yang ditampilkan dalam pameran
Pembukaan pameran perdana yang di selenggarakan oleh galeri Serrum ini di meriahkan oleh sekitar 40 orang, pameran KRL Edisi Spesial: ‘Baca Komik’ ini dibuka pada pukul 16.40 sore tanggal 12 Desember 2009 di Serrum, mundur dari waktu yang direncanakan karena sempat hujan. Pameran ini juga terdapat penjualan Buku Komik ‘Guru Berdiri Murid Berlari’ terbitan Gradien Mediatama, dengan harga spesial kepada pengunjung pameran. Karya yang ditampilkan yaitu komik dalam kanvas dan mural.